Bicara Profesi Penulis di My Parents My Teacher: Saat IRT Jadi Narasumber di Depan Murid Kelas 4 SD

Sekitar awal Oktober tahun lalu, kepala sekolah di sekolah anak menghubungi lewat pesan singkat. “Selamat pagi, Mama. Maaf menggangu waktunya. Apa saya bisa telpon? “

Pesan singkat itu masuk saat saya sedang bersantai menikmati kopi pagi bersama adik yang kebetulan hari itu lagi off.

Tanpa menunggu lama, saya jawab. “Pagi, Miss. Boleh miss, silakan. “

Obrolan berlangsung sekitar sepuluh menit lebih, membuat kopi cappucino hangat yang sudah tersaji sejak tadi jadi adem menunggu diseruput , hehe.

Ternyata, si ibu kepada sekolah sedang mencari beberapa orangtua untuk mengisi kegiatan, My Parents My Teacher.

Jujur aja waktu itu ingin menolak, karena saya hanya Ibu Rumah Tangga mantan pekerja korporasi yang belajar menulis sebagai kegiatan selingan di tengah urusan rumah tangga.

Jadi buat saya diminta mengisi sesi profesi penulis itu sebagai sesuatu yang ‘WoW’. Entah kenapa waktu itu muncul rasa nggak PeDe. Rasanya kok ilmu masih cupu begini diminta berbagi sih.

Tapi setelah ngobrol dengan si Ibu Kepala Sekolah keesokan harinya lewat pesan Whatsapp, muncul rasa nggak rela aja melewatkan kesempatan baik untuk bisa sharing ke anak-anak sekolah.

Ingin tahu juga, apa sih profesi penulis itu di mata mereka.

Tantangan Sharing di Depan Murid Kelas 4 SD

Hari yang dinanti tiba. Cuaca pagi itu lumayan cerah, saya berangkat empat puluh lima menit lebih awal supaya tidak terlambat dan punya waktu untuk bisa berbincang sebentar dengan guru-guru di sana.

Seperti yang sudah dibahas via chat, saya diminta mengisi sesi untuk anak kelas 4 SD.

Berhari-hari saya memikirkan materi tentang penulis seperti apa yang mau saya kasih ke mereka. Kira-kira butuh membuat slide presentasi atau tidak ya?

Akhirnya, dengan pertimbangan keterbatasan waktu sharing dan anak-anak yang usianya masih berkisar 9-10 tahun, saya hanya fokus hal-hal dasar tentang profesi penulis. Tanpa slide presentasi supaya sesi berjalan natural dan santai.

Beberapa materi yang waktu itu saya bagikan:

  • Apa itu profesi penulis?
  • Siapa saja yang mesti punya kemampuan menulis?
  • Manfaat kalau kamu bisa menulis?
  • Apa aja keseruan menulis?
  • Sebagai tambahan iseng menyiapkan beberapa pertanyaan untuk quiz dan saya siapkan hadiah kecil untuk mereka.

Profesi Penulis Bagi Murid Kelas 4 SD

Perkenalan singkat dengan mereka saya buka dengan menyebutkan identitas diri. Saya menunjukkan buku yang saya tulis dan kenapa saya jadi suka menulis.

Anak yang duduk di pojok depan nyeletuk, “Ini mamanya Akbar ya?”

Wah sepertinya dia kenal Akbar anak saya yang bersekolah juga di Bintang Mandiri School. 

“Iya betul. Akbar ada di kelas sebelah. Kelas 3,” jawab saya.

Kemudian setelah perkenalan, saya lanjut balik bertanya ke mereka.

“Nanti kalau udah besar, kalian mau jadi apa? ” Pertanyaan pembuka yang saya berikan ke anak-anak waktu itu sambil membagikan post it untuk mereka menuliskan jawabannya.

Beberapa anak ada yang langsung menuliskan cita-citanya, beberapa masih menerawang. Matanya menoleh ke sana ke mari. Sibuk melihat apa yang teman mereka tulis di kertasnya.

Setelah beberapa menit, saya minta mereka menyebutkan jawabannya secara bergilir. Ada yang menjawab jadi pilot, jadi astronot, jadi guru, jadi chef, jadi dokter, beberapa menulis profesi youtuber, kreator konten, dan penulis.

“Wah ternyata ada yang mau jadi penulis nih. Kenapa kamu ingin jadi penulis?”

Saya bertanya ke seorang anak laki-laki yang duduk di baris kedua.

Dia nggak langsung menjawab, sepertinya bingung mesti menjawab apa.

Saya tanya lagi, “Ada penulis yang kamu suka? ” Dia sempat diam dan langsung menjawab, “Itu siapa ya namanya aku lupa. novelnya dibeliin mama judulnya Bumi.”

“Tere Liye ya…?” jawaban saya sembari menebak penulis favorit anak itu.

“Iya kayaknya miss,  saya lupa,” jawabnya sambil meringis diikuti riuh ketawa teman-temannya.

Kemudian saya minta anak-anak mulai dari baris depan untuk menyebutkan apa cita-cita yang mereka tulis di kertas tadi. Saya menyalinnya di papan tulis supaya semua bisa melihat profesi apa saja yang diinginkan teman-teman mereka.

Nah, saat papan tulis sudah terisi penuh dengan berbagai profesi, saya apresiasi keinginan mereka yang berani bercita-cita tinggi.

Lalu saya coba tanyakan ke mereka ada nggak tau apa profesi penulis itu?

Beberapa anak bersahutan,

“Orang yang kerjanya menulis novel. “

“Orang yang menulis berita, ” 

“Orang yang sering bikin buku, “

Dari celetukan mereka terlihat kalau mereka sudah cukup tau ya cakupan pekerjaan penulis. Mungkin saja mereka mendengar, membaca, atau melihatnya dari sumber-sumber yang tersebar.

Kemampuan Menulis itu Milik Siapa?

Setelah mencerna jawaban mereka, saya langsung beri apresiasi.

“Wah hebat ya udah pada tahu apa aja sih kerjaan penulis itu. Tapi ada satu nih yang kurang.

Sebetulnya profesi apa pun akan sangat baik kalau mereka juga punya kemampuan menulis. Lho, Kenapa begitu? “

Saya jelaskan perlahan ke anak-anak.

Misalnya nih para YouTuber dan Kreator Konten , mereka butuh lho menulis script untuk konten mereka. Atau para ibu dan bapak guru, wah pasti sangat keren kalau bapak dan ibu guru punya kemampuan menulis yang baik. Laporan siswa bisa mereka tulis dengan baik dengan bahasa yang efektif.

Lalu gimana dengan profesi dokter, astronot, dan chef, apa mereka perlu punya kemampuan menulis?

Tentu bukan hal yang wajib, tapi kalau mereka bisa menulis pasti akan amat sangat keren dan bermanfaat.

Seperti dr. Gia Pratama, itu kan pak dokter yang bisa menulis. Bukunya yang berjudul Perikardia, tentang perjalannya sebagai seorang dokter di ruang UGD rumah sakit dan Tentang Tubuhmu, buku best seller-nya yang berisi tentang bagaimana kita bisa mengenali, merawat, menjaga, dan menyayangi tubuh agar tetap sehat.

Coba lihat akun media sosialnya, dr. Gia suka membuat cerita tentang apa yang dia alami di ruang gawat darurat dengan gaya storytelling. Pembaca pasti akan suka sekali membaca tulisan dari profesi yang justru bukan penulis.

Setelah mendengar penjelasan tiu, beberapa anak terlihat mengangguk. Beberapa masih menelaah. Terutama si anak yang katanya mau jadi Youtuber itu.

Nah, langsung aja saya kasih contoh yang bisa relate dengannya.

“Kalian tau kak Nessie Judge atau kak Nadia Omara? “

Beberapa anak yang duduk di baris belakang yang dari tadi kelihatan mengantuk langsung berteriak, “Aku tau, Miss. Suka nonton kak Nessie.”

Teman di sebelahnya juga nggak mau kalah, “Kalau saya suka nontonin konten KHW-nya kak Nadia Omana. “

Mendengar celetukan itu rasanya saya jadi semangat, karena mereka kembali menyimak.

“Nah, untuk bisa bercerita dan storytelling yang  baik dan lancar, kak Nadia dan Kak Nessie mesti menulis script-nya kan, “

Itulah kenapa meskipun mereka Youtuber, tapi kalau bisa menulis itu akan lebih oke. Para Youtuber juga bisa menggunakan jasa penulis naskah atau scriptwriting.

Tapi, akan lebih baik kalau mereka bisa menulis meskipun sedikit. Jadi bisa mengarahkan cerita seperti gaya khas mereka sendiri.

Quiz yang Bikin On Suasana

Waktu tersisa sekitar 20-30 menit, daripada mereka jenuh hanya mendengarkan saya terpikir untuk ngasih quiz sederhana.

Pertama, QUIZ memilih mana kata baku,

Kedua, QUIZ memilih mana penulisan imbuhan di yang benar

Sebagai hadiah, saya sediakan beberapa pcs pensil dan penghapus. Betul aja, QUIZ berlangsung 3 tahap karena satu kelas ingin dapat giliran semua. Jumlah mereka sekitar 40 anak gabungan dua kelas.

Meskipun beberapa menjawab dengan hasil menebak-nebak dan benar, tapi mereka jadi tahu oh ini ternyata penulisan di yang keliru ya, oh ini kata baku ya.

Anak yang menjawab dengan benar langsung melompat-lompat karena boleh memilih pensil atau penghapus. Beberapa minta keduanya. Berhubung bawa hanya selusin, akhirnya hanya bisa bawa satu macam saja.

Beberapa bulan berselang, ada kejadian lucu. Beberapa anak yang berpapasan saat menjemput Akbar menegur saya dengan sebutan, Miss. Saya tersenyum, dan balas sapaannya. Dalam hati ngebatin, “Seru juga ya dipanggil, Miss. Berasa jadi guru beneran, hehehe.”

Insight My Parents My Teacher

Kegiatan ini baik untuk membuka sudut pandang anak-anak tentang seperti apa profesi penulis lebih dari yang mereka ketahui sebelumnya.

Semoga kelak anak-anak tidak ragu untuk meningkatkan kemampuan menulis mereka. Karena menulis merupakan skill dasar yang bisa mendukung profesi lainnya.

Meskipun kita hidup di era Artificial Intelligence (AI), jangan menjadi tumpul dan bergantung sepenuhnya, karena AI hanyalah produk pendukung. Manusia tetap operator utama yang wajib punya skill mumpuni.

Semoga kelak lewat My Parents My Teacher anak-anak jadi punya wawasan yang lebih luas untuk memilih profesi yang mereka cita-citakan. Kemudian, bisa berkontribusi penuh di bidang tersebut, membawa banyak berkah dan manfaat.

1 thought on “Bicara Profesi Penulis di My Parents My Teacher: Saat IRT Jadi Narasumber di Depan Murid Kelas 4 SD”

  1. kalo saya sih, salah satu tantangan jadi narasumber (walau di depan anak-anak) adalah demam panggung, hehehe

    karena itu butuh banget kemampuan publik speaking agar suasana cair dan anak-anak paham materi yang kita bawakan

    eniwei , semoga semakin banyak anak yang tertarik untuk ngeblog ya?

    Reply

Leave a Comment

Index