Jurnal Mega

Blog Tentang Keseharian seorang jurnalis

Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian, “The Art of Solitude”

Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian, “The Art of Solitude”

jurnalmega.com, Setiap orang memaknai kesendirian dengan caranya masing-masing.
Bagi Introvert kesendirian justru amat perlukannya untuk mengisi ulang energi mereka yang habis selepas dari kerumunan. Berbanding terbalik bagi para Ekstrovert yang amat perlu bertemu dengan banyak orang sebagai sumber energi dan ajang aktulisasi diri mereka.

Pandemi jadi salah satu keadaan yang memaksa kita untuk saling memalingkan saat saling membutuhkan. Apakah di masa itu kamu menjadi cemas karena banyak hal tertunda? Beberapa rencana mesti dirancang ulang menyulut amarah, kecewa, dan bikin malas ngapa-ngapain?

Nah, buku ini tepat untukmu.

“Apa yang dapat kita lakukan saat sendirian? Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama diri? Pikiran apa yang muncul di benak kita? Bagaimana menyikapi pikiran yang ada dalam kepala?” Kemudian menjadi 4 Intisari ini yang akan kita dapatkan dalam buku ini.

Intisari dari Buku Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian The Art of Solitude karya Desi Anwar

The Art of Solitude – Desi Anwar
  • Mengenali Diri Dengan Memandang Cermin
  • Menciptakan Kebiasaan Baru, Mengelola Emosi untuk Memperoleh Kebahagiaan
  • Menertibkan Hidup Dengan Menertibkan Pikiran
  • Memaknai Ulang Hidup
  • Melanjutkan Perjalanan dan Menghidupkan Hidup
  • Insight dari Buku The Art of Solitude; Tentang Apa yang Kita Pikirkan Saat Sendirian karya Buku dari Desi Anwar

Buku Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian (The Art of Solitude) karya Desi Anwar mengajak pembacanya untuk melihat segala hal dari ragam sudut pandang. Seperti saat pandemi saat masa karantina selama beberapa bulan, kita diminta menjaga jarak, menjauhkan diri dari ornag lain.

Baca Juga  Memaknai Kumpulan Cerita Pendek Nasu Likku

Kesendirian bukanlah siksaan atau penderitaan yang mesti dihindari apalagi ditakuti. Satu momen yang Desi pandang sebagai kesempatan untuk menghadapi sosok yang biasanya sangat jarang kit sediakan waktu buatnya. Diri kita.

Dengan mengurangi interaksi sosial, kita jadi lebih banyak waktu untuk merenungi diri dan berhubungan kembali dengan diri sendiri.

Mengenali Diri Dengan Memandang Cermin

Menghabiskan waktu sendirian adalah kesempatan langka dan tak ternilai untuk menemukan hakikat diri kita yang sebenarnya. Kita juga dapat mengajukan pertanyaan mendasar tentang kehidupan dan keberadaan yang mungkin selama ini kita anggap remeh atau jarang kita pikirkan.

Saat memandang cermin, apa yang kita temukan di sana?

Tak lain sesosok itu adalah diri kita sendiri. Satu-satunya yang dapat kita andalkan saat tidak ada orang lain di sekitar kita. Saat di suatu kesempatan ketika kita dipaksa untuk sendiri, kemudian dipaksa untuk lebih mengenalnya apa yang mau kita lakukan?

Itulah kesempatan baik berbicara lalu mengenalnya dengan cara yang jauh lebih baik, berterima kasih padanya karena selalu hadir.

Menciptakan Kebiasaan Baru, Mengelola Emosi untuk Memperoleh Kebahagiaan

Setiap hari saat kita berinteraksi dengan orang di luar kadang ada saja yang menyulut emosi dan stres tanpa kita sadari. Janji yang nggak ditepati, harapan yang nggak kesampaian kadang membuat kecewa, bener nggak?

Tapi kita nggak pernah mencoba memahami kenapa ya rasa itu muncul, ya sekadar mengalaminya saja. Nah, itu sebenarnya hanya perasaan kita, bagian dari diri kita. Inilah kesempatan baik untuk Mengenali Emosi Apa Adanya dan Memahami Mengapa Dia Bisa Muncul.

“Emosi adalah alat bantu yang sangat baik untuk dimiliki, sehingga ketika kita merasakan munculnya salah satu emosi itu lagi, kita dapat menanganinya lebih baik juga menangani situasi apapun yang kita alami.
Caranya dengan mengingat setiap emosi yang muncul seperti rasa malu, rasa sedih. Menggali lagi perasaan itu bisa saja akan terasa lebih buruk karena kita mengingat begitu bodohnya kita saat itu.

Baca Juga  Ulasan Buku LALITA - Cerita Perempuan Hebat Indonesia

“Pada suatu titik kita akan menyadari kalau perasaan itu nggak permanen, atau sebenarnya dapat dihindari tidak seperti anggota tubuh (tangan, kaki) yang menempel permanen di tubuh kita.”

“Setelah kita memahami emosi apa adanya yaitu hanya sensasi sementara kita akan menyadari sebenarnya dapat mengarahkan emosi supaya dampaknya nggak terlalu dramatis atau traumtis pada pada kesehatan kita.”

Dengan begitu emosi nggak akan sering kita rasakan dan mengancam untuk muncul lagi di saat kita mengalami situasi yang sama atau kita mungkin bisa mengendalikan dengan mengenali tanda-tandanya ketika berbagai emosi ini muncul di dalam diri kita dan akan menyerang pikiran dan tubuh kita.

Menertibkan Hidup Dengan Menertibkan Pikiran

Di sini ini kita diajak untuk memperhatikan lingkungan terdekat kita seperti kamar tidur, dan ruangan di dalam rumah. Jika barang-barang di tempat-tempat itu tak tertata rapih, banyak barang yang harus disortir, dll.

Ternyata menyisihkan barang yang tampak tak berguna, menyimpan barang yang kita perlukan, berdaya guna, dan punya fungsi yang jelas, turut memengaruhi hidup kita.

Ini tak hanya tentang lingkungan rumah yang rapih dan bersih, tapi sangat membantu meningkatkan fokus, keseimbangan, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.

Memaknai Ulang Hidup

Manusia selalu mencari makna dalam hidupnya. Setiap hal yang kital lihat dan temui punya makna masing-masing.

Semua yang hadir dalam hidup kita membawa makna. Tanpa makna, tindakan kita seolah nggak ada gunanya. “Kebutuhan akan makna ini muncul dari bakat kita sebagai manusia.”

Untuk merenungi diri sendiri untuk melihat diri kita dari sisi orang lain. Tanpa penerimaa dan pengakuan maka kita seperti tidak ada. Selfie salah satu cara untukmengingatkan kita akan keberadaan diri kita sendiri.

Melanjutkan Perjalanan dan Menghidupkan Hidup

Mungkin kita merasa disalahpahami, dikelilingi orang yang meremehkan, ditimpa kemalangan atau sakit parah. Pernah tak menyukai diri sendiri, membuat keputusan yang salah, dirundung pilu.

Baca Juga  Mari Bicara Tentang Novel Orang-Orang Biasa (Ordinary People)

Meski sudah memiliki yang sudah diinginkan tetap saja kita kerap merasa bosan dan nggak bahagia bahkan tertekan atau mungkin kita dihadapkan pada kegalagalan demi kegagalan.

Mungkin kita punya sesuatu yang orang anggap sebagai keberhasilan, tapi kita anggap sebagai beban berat.

“Hidup ini jadi jauh lebih bermakna jika kita tahu tujuan hidup. Itu jauh lebih penting dari sekadar mencapai suatu pencapaian. Karena tujuan hidup tidak dapat diukur dengan pekerjaan simpanan bank status ketenaran atau pencapaian. Tapi seberapa kita sudah mempelajari perjalanan hidup yang hanya diperuntukkan untuk kita.”

Bangkit dari kegagalan dengan tekad dan semangat baru. Menghadapi ketakutan dengan keberanian. Menghadapi kemunduran dan kemalangan dengan harapan. Mengatasi tantangan dan pergolakan hidup dengan kesabaran dan ketabahan.

Inilah alasan kita diberikan hidup yang kita jalani, bukan sekadar kesempatan untuk bekajar, melainkan juga untuk mengingatkan dan mengembangkan diri kita menjadi manusia terbaik yang bisa kita wujudkan dalam situasi apapun yang kita alami dalam hidup ini.

Perjalanan seumur hidup dengan kearifan dan mengenal diri sendiri adalah tujuan hidup kita.

Insight dari Buku The Art of Solitude; Tentang Apa yang Kita Pikirkan Saat Sendirian karya Buku dari Desi Anwar

Kesendirian justru menghadirkan ruang dan kesempatan untuk masuk lebih intim ke dalam diri. Mengenali setiap emosi yang hadir, lalu beranjak memaknai ulang apa arti hidup.

Mengenali emosi perlu praktik, perlu merasakan secara sadar gejolak apa saja yang hadir, lalu kemudian mencernanya dengan perlahan. Proses itu membuat kita paham kalau emosi apapun bentuknya itu bersifat sementara, emosi bukanlah diri kita yang sesungguhnya.

Mengetahui cara mengenali emosi laik dijadikan bekal untuk melanjutkan perjalanan dengan menghidupkan hidup kita ke depannya.

Bila dinikmati secara utuh, kesendirian itu serupa seni mencerahkan dan menyembukan.

One thought on “Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian, “The Art of Solitude”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Perjalanan Menulis Buku “Dari High Heels ke Sendal Jepit”
Previous Post Perjalanan Menulis Buku “Dari High Heels ke Sendal Jepit”
7 Persamaan Yoga dan Menulis
Next Post 7 Persamaan Yoga dan Menulis