Nggak terasa sudah 9 tahun lebih aku jadi full-time IRT. Agenda harian 9 to 5 berganti jadi urusan dapur, sekolah anak, dan kemacetan yang makin akrab di jam antar-jemput.
Di tengah semua urusan rumah, jujur ada satu hal yang mengganjal tentang gimana kondisi portofolioku setelah lama nggak ngantor?
Bukan berarti aku diam saja selama 9 tahun ini. Aku masih aktif menulis buku antologi dan solo, berkomunitas, sampai jadi kontributor di beberapa media nasional (Liputan6.com) dan independen (Omong-Omong Media).
Hanya saja, semua itu rasanya beda jauh dari pencapaian yang dulu pernah aku punya saat masih bagian dari korporasi besar.
Dari rasa minder itulah pertanyaan muncul satu pertanyaan, “Perlu nggak sih kita para IRT eks-corporate tetap rutin update portofolio?”
Apa itu “portofolio” Versi IRT dari Rumah?
Untuk menghindari miskonsepsi, nggak ada salahnya kita pahami arti Portofolio. Portofolio merupakan kumpulan dokumen, hasil karya, proyek, atau pencapaian yang disusun untuk menunjukkan kemampuan dan keahlian seseorang.
Pencapaian di sini bukan harus yang wow, tapi bisa dari hal sederhana yang mampu kita lewati dan selesaikan dengan konsisten. Catet, konsisten!
Perlu Nggak ya IRT Eks-Corporate Update Portofolio-nya?
Sebetulnya sih nggak ada tuh yang mewajibkan kita para IRT disibukkan dengan urusan portofolio, apalagi kalau memang kondisinya belum memungkinkan.
Misalnya saja seorang ibu yang baru aja melahirkan, sedang pemulihan fisik, lagi ada di masa menyusui, atau anak sedang di fase mulai aktif gerak fisiknya.
Momen seperti itu baiknya sih dinikmati aja dulu. Supaya badan dan pikiran nggak terpisah, dan energi kita bisa benar-benar hadir untuk keluarga.
Tapi sedikit catatan, mungkin jedanya aja yang jangan kebablasan terlalu lama.

Karena sebagai manusia yang pernah punya identitas profesional, ada bagian dari diri kita yang ingin tetap sejalan dengan dunia luar.
Di sini aku coba menuliskannya bukan sebagai career coach. Tapi murni dari POV dan pengalamanku sebagai IRT eks-corporate yang mencoba untuk produktif dari rumah.
Intip 6 Caraku IRT Eks-Corporate Bangun Portofolio dari Rumah
Caraku ini mungkin nggak terlalu wow, tapi paling nggak ini cukup nyaman untuk aku jalani selama beberapa tahun belakangan.
1. Mulai dari yang aku bisa
Kesalahan terbesar saat bangun portofolio dan aku sendiri pernah melakukannya adalah langsung menetapkan standar dan target tinggi.
Harus punya website estetik, punya bebera klien, dan mau punya karya yang langsung besar. Padahal kita baru aja mulai.
Inhale-exhale, pelan-pelan sadari kondisi. Coba mulai aja dari yang betul-betul bisa diajalani sekarang, bukan yang terlihat keren dari luar.

Contohnya sederhana saja.
Empat tahun lalu aku diminta bergabung jadi kontributor daerah oleh salah satu media nasional. Awalnya nggak pede karena sama sekali nggak ada pengalaman. Alhasil, setelah kirim satu contoh tulisan, mereka approved.
Sejak saat itu aku rutin mengirimkan artikel untuk kanal health dan regional. Tanpa aku sadari, ternyata bergabung di sana ikut mendongkrak pengalamanku di dunia tulis menulis. Sejak saat itu mulai tumbuh rasa percaya diri yang sempat melemah semenjak resign dari kantoran.
Itulah kenapa pantang buat kita bilang enggak untuk sesuatu yang belum pernah kita coba. Karena toh dengan mencoba tak ada ruginya buat kita, justru menambahkan satu pengalaman baru di portofolioku.
Intinya, mulai dari yang ada di depan mata saat ini. Bukan dari apa yang hanya dibayangkan.
2. Buat proyek sendiri
Portofolio itu nggak selalu tentang klien yang kita tangani. Meskipun ke depannya kita butuh itu sebagai validasi dan bukti kemampuan kita di mata orang lain.
Tapi bagaimana kalau kliennya belum ada?
Jawabnnya sederhana yaitu ciptakan proyekmu sendiri.
Contoh konkretnya begini.
Kalau kamu jago urusan dapur, coba rancang proyek “52 Resep Nusantara dalam Setahun” satu resep baru setiap pekan, didokumentasikan lengkap dengan foto, cerita di balik resepnya. Itu bukan sekadar konten itu portofolio kuliner yang hidup dan berkembang setiap minggunya.
Atau kembangkan metode jurnaling versimu sendiri yang terbukti bisa melepaskan overthinking di tengah kesibukan sebagai IRT. Dokumentasikan prosesnya, bagikan hasilnya, jadikan itu sesuatu yang bisa orang lain pelajari dan ikuti.
Proyek pribadi yang selesai itu bukti kemampuan yang tidak perlu menunggu validasi dari luar.
3. Jadikan blog bagian portofolio
Tulisan kita adalah portofolio kita, setiap artikel yang di-publish adalah karya.
Jujur, aku sempat lama sekali “cuti” mengisi blog bukan karena berhenti menulis, tapi karena fokus ke artikel media.
Waktu itu aku mikirnya blog pribadi itu kan tempatnya tulisan santai. Tulisan yang dibuat kalau ada waktu luang dan kebetulan lagi pengin nulis. Semacam buku harian digital yang tidak terlalu serius.
Tapi ternyata keliru.
Belakangan aku sadar keduanya punya peran berbeda tapi sama pentingnya. Menulis untuk media eksternal membangun kredibilitas, menulis di blog pribadi membangun otoritas atas namamu sendiri. Blog-mu bukan sekadar tempat nulis, tapi portofolio yang terus bertumbuh setiap kali tulisan di-publish.
4. Bergabung ke grup atau komunitas
Komunitas yang tepat bisa mempercepat proses kita tanpa banyak trial-error.
Tapi, please be selective.
Karena tidak semua grup atau komunitas cocok dengan ritme dan tujuan kita.
Ada komunitas yang energinya positif dan saling mendorong untuk maju. Tapi ada juga yang tanpa sadar justru bikin kita merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau malah terjebak di lingkaran perbandingan yang tidak ada habisnya. Maunya masuk komunitas untuk termotivasi , bukan merasa terintimidasi.
5. Pilih platform yang cocok
Aku pribadi memilih Website dan Instagram.

Website jadi rumah utama tempat semua karya dan tulisan berkumpul rapi dalam satu tempat yang sepenuhnya aku bisa kendalikan.
Instagram jadi jembatan tempat berbagi proses dan sisi personal yang tidak selalu muat dalam format tulisan panjang.
Dua platform, dua fungsi berbeda, saling menguatkan.
Yang terpenting bukan seberapa banyak platform yang kamu punya, tapi seberapa konsisten kita dalam prosesnya (ini jujur self reminder buatku, hiks).
6. Alokasikan waktu bukan menyisakan
Bukan menyisakan, tapi mengalokasikan.
Aku sendiri sudah beberapa tahun menjalankan sistem yang sederhana tapi cukup konsisten dijalani. Setiap harinya, aku punya dua blok waktu khusus pagi setelah antar anak sekolah dari jam 09.00 sampai 12.00, dan malam dari jam 20.00 sampai 21.30. Di luar jam itu, aku nggak mai memaksakan diri. Supaya rumah tetap jalan, anak-anak tetap jadi prioritas.
Intinya nggak harus selalu sempurna. Ada hari-hari di mana jadwal berantakan karena anak sakit, urusan mendadak, atau badan capek. Tapi karena sistemnya sudah ada, aku tinggal kembali ke jalur, nggak perlu mulai dari nol lagi.
Portofolio yang baik tidak dibangun dari sisa-sisa hari yang sudah habis. Tapi dibangun dari waktu yang sengaja disisihkan untuk diri sendiri, untuk karya yang ingin dibuat.
Tantangan & Waktu Terbaik IRT Eks-Corporate Update Portofolio
Tantangan terbesar yang dihadapi ibu rumah tangga yang ingin berkarya sering dimulai dari dalam diri sendiri.
Standar terlalu tinggi, nggak tahu harus mulai dari mana, waktu yang terbatas, tidak ada yang memvalidasi, sampai merasa tidak legitimate, perasaan bahwa karya yang lahir “cuma dari rumah” tidak cukup serius untuk dianggap nyata.
Waktu terbaik untuk update portofolio bukan soal disiplin bangun jam 5 pagi, tapi soal menemukan momen yang strategis dan realistis dalam ritme hidupmu sebagai IRT.
- Segera setelah selesai mengerjakan sesuatu, dokumentasikan selagi masih segar, sebelum detailnya terlupakan.
- Saat kondisi rumah sedang “stabil”, itu momen emas yang jarang datang, jadi manfaatkan sebaik mungkin.
- Di awal bulan, jadikan sebagai ritual rutin yang ringan untuk bikin plan.
Jadi, kalau ditanya kapan waktu yang tepat untuk mulai memikirkan portofolio lagi, jawabannya bukan soal kapan, tapi soal kenapa. Temukan alasanmu sendiri, dan dari situ semuanya akan terasa jauh lebih ringan untuk dimulai.

Insight Penutup
Membangun portofolio bukan berarti tentang pembuktian bahwa kita masih setara dengan dunia corporate, tapi tentang kesadaran untuk mengabadikan pengalaman ketika kita ikut bertumbuh di dalamnya.
Dari keenam cara ini, mana yang paling relate sama kondisimu sekarang? Yuk, berbagi cerita di sini, siapa tahu ada yang juga lagi berjuang untuk upgrade portofolionya dari rumah.