Cerita IRT Eks-Corporate Ikutkan Anak ke Leadership Camp Merry Riana Bali

Beberapa pekan lalu, sebuah iklan di Instagram menarik perhatian saya. Berbeda dari iklan-iklan lain yang langsung saya skip, kali ini jempol saya berhenti dan menontonnya sampai habis.

Isinya tentang sebuah event untuk remaja yang mereka sebut Leadership Camp. Nama penyelenggaranya tidak asing di telinga saya sejak hampir dua dekade lalu, Merry Riana.

Nostalgia yang Memicu Keputusan

Sekitar tahun 2014 lalu, saya mengenal nama Merry Riana untuk pertama kalinya. Waktu itu, saya masih seorang pekerja kantoran, dan penggemar buku-bukunya. Hampir semua koleksinya saya punya, termasuk edisi eksklusif bertandatangan.

Saya juga menyempatkan diri untuk hadir di salah satu event-nya di Bhumiku Convention Center Bali pada tahun yang sama. Karena acaranya jatuh pada hari Sabtu, saya tidak perlu mengajukan izin atau cuti kerja.

Dua buku yang kala itu benar-benar mengubah cara pikir saya adalah Follow at Merry Riana dan Langkah Sejuta Suluh. Bukan sekadar buku motivasi biasa, keduanya punya peranan membentuk POV saya melihat masalah, dan mengambil keputusan.

Maka ketika nama itu muncul lagi di layar ponsel, seperti ada sesuatu yang “memanggil”. Saya mengklik dan mendaftar untuk sesi Zoom pra-event untuk mengetahui lebih mendetail apa yang mereka tawarkan bagi para remaja.

Setelah mendengar paparan para coach, keputusan saya bulat: anak remaja saya yang berusia 15 tahun harus ikut ini.

Leader Versi Seorang Eks-Corporate

Setiap mendengar kata leader atau pemimpin, bayangan saya langsung tertuju pada satu objek yang sama, yaitu seseorang berpakaian kantoran rapi, bicaranya tegas, berwibawa, dan penuh percaya diri di depan kolega dan tim.

Pemimpin yang ideal tidak menunjukkan sikap grogi, tetap tenang, tidak salah tingkah ketika diminta bicara di depan orang banyak

Dari sanalah kebutuhan untuk membekali anak dengan kemampuan leadership muncul. Bukan untuk menggantikan bekal akademik, melainkan untuk menggenapinya. Karena di dunia kerja yang pernah saya jalani, memiliki kemampuan teknis saja tidak cukup.

Ternyata, Memimpin itu Dimulai dari Dalam

“Ada orang yang cakap memimpin ke luar, tapi justru gagal mengendalikan emosinya sendiri.”

Semakin saya pelajari konsep kepemimpinan, semakin saya sadari bahwa kepemimpinan bukan hanya soal memimpin orang lain. Ada yang jauh lebih mendasar: bagaimana kita mampu memimpin diri sendiri

Berkaca pada diri sendiri, di usia yang sudah kepala empat, kadang masih saja sering kalah dengan emosi sendiri. Sabar jadi satu hal yang mudah diucapkan, tapi butuh kematangan dan kesadaran untuk bisa melakukannya.

Belum lagi soal time management, soal menentukan prioritas, dan bagaimana menetapkan batasan yang sehat dengan lingkungan, semua itu membutuhkan skill kepemimpinan.

Maka dari itu, saya ingin anak saya membuka sudut pandangnya dan belajar tentang semua ini. Skill mengelola diri adalah fondasi yang akan ia bawa ke mana pun, ke karier apa pun yang ia pilih kelak. Dengan memiliki kecakapan dalam mengelola diri, dia akan mampu berkomunikasi dengan baik, berempati, dan lebih bertanggung jawab ke dalam maupun ke luar dirinya.

Hari H

Akhirnya, Sabtu 9 Mei, hari  yang ditunggu pun tiba. Pagi tadi cuaca bersahabat. Satu tas hitam terisi penuh diletakkan di sisi depan motor. Kami memilih pakai roda dua untuk menghindari padatnya lalu lintas di seputaran Kuta. Pilihan yang tepat, ternyata. Begitu sampai lokasi, ruas-ruas parkir roda dua dan empat sudah penuh sesak.

Di dalam, para peserta dan orang tua sudah memadati ruangan. Kami dipisahkan untuk registrasi masing-masing, lalu masuk ballroom untuk mendengarkan arahan MC dan para coach.

Sebelum meninggalkan ruangan, saya sempatkan menyapa si Kakak sebentar. Saya peluk dia. “Semangat, Kak. Semoga dapat banyak ilmu ya.” kata saya menyemangati. Dia mengangguk. Dan saya pun melangkah keluar dengan perasaan campur aduk antara haru dan harapan.

Kita tidak tahu persis hasil dari sebuah proses. Tapi ini adalah salah satu langkah dari proses tersebut. Saya percaya, langkah kecil yang diambil saat ini mungkin tidak langsung dapat dipetik hasilnya saat ini juga, dia akan terakumulasi oleh waktu untuk dipanen di kemudian hari nanti.

Catatan dari Seorang Ibu yang Dulu Pemalu

Saya pernah menjadi karyawan yang menjalani hari-hari di balik meja, dengan segala ambisi dan juga keterbatasan. Salah satu yang saya sesali dan masih saya rasakan hingga kini adalah rasa minder yang terlalu lama saya biarkan menguasai. Saya yang pemalu dan introvert ini terlalu sering mengalah sebelum mencoba.

Karenanya, ada satu harapan sederhana yang saya titipkan diam-diam setiap kali saya melihat anak saya tumbuh: jadilah versi yang lebih baik dari ibumu. Jangan biarkan rasa tidak percaya diri mempersempit peluangmu. Beranilah mengambil ruang, beranilah berbicara, beranilah hadir penuh dalam setiap kesempatan.

Investasi terbaik yang bisa kita berikan kepada anak bukan hanya berbentuk angka di tabungan pendidikan. Kadang, investasi itu berbentuk satu hari di sebuah leadership camp, satu momen yang mungkin akan ia ingat bertahun-tahun kemudian.

Dan kalau ada orang tua di luar sana yang sedang menimbang-nimbang hal serupa, apakah worth it menginvestasikan waktu dan uang untuk pengembangan diri anak di luar jalur akademik, dari sudut pandang saya, jawabannya: iya, worth it.

Karena pada akhirnya, kita tidak hanya membesarkan anak yang pintar. Kita sedang membesarkan manusia yang utuh.

Leave a Comment