Cerita IRT Eks-Corporate: Hadiahi Anak Pengalaman Seru di Serayu Pottery Ubud

Semakin dewasa usia anak, kadang kita jadi makin bingung mau belikan hadiah apa di hari ulang tahunnya. Mau kasih surprise barang, kadang mikir “Ntar dia suka nggak ya, cocok nggak ya? “

Memberikan hadiah bukan tradisi di keluarga kami, ini hanya sebentuk rasa syukur anak dikasih umur dan kesehatan.

Bagi saya pribadi yang super perhitungan ini mikirnya hadiah harus sesuatu yang terpakai jangka panjang. Maklum emak-emak pertimbangannya kan udah keluarin uang, ya harus terpakai jangan sampai mubazir atau hanya untuk foya-foya.

Akhirnya daripada langsung membeli barang tertentu, saya milih langsung obrolin saja dengan anak.

Jadi, begini ceritanya. Beberapa pekan sebelum KK ultah, kami membahas beberapa pilihan salah satunya pilihan mengunjungi museum seperti dua tahun lalu atau coba pengalaman baru ke Serayu Pottery di Ubud.

Kebetulan tempat ini juga sudah jadi whislist saya sejak beberapa tahun lalu. Foto-foto ikonik di bawah ratusan clay pot yang digantung makin bikin tertarik ingin ke sana.

Tapi, kadang rencana sudah dibuat tapi harinya nggak pas. Suami sibuklah, anak ada kegiatan lah. Mau pergi sendiri juga mikir berkali-kali lipat.

“Mana seru ya ke sana sendiri, ntar mau foto masa minta tolong mbak-mbak di sana “

Pengalaman di Pottery Class Serayu Pottery

Di antara pembicaraan tentang kado ultah, saya minta si KK untuk cari info tentang Serayu Pottery di Ubud. “Coba browsing dulu, Kak. Sepertinya seru ultah KK kita jalan ke sana. “

Ternyata KK Mallika menyambut baik ide itu. Dia mulai dari liat-liat postingan instagram @serayupot sampai menghubungi ke kontak mereka via WhatsApp.

Di luar dugaan, awalnya niat mengajak berkunjung saja. Dia justru tertarik dengan Pottery Class-nya.

Setelah dia ngobrol dengan kakak admin, si KK dapat penjelasan kalau di Serayu Pottery itu tersedia beberapa pilihan Pottery Class.

Perbedaannya tiap kelasnya ada pada alat, bahan, durasi, dan benefitnya:

1. Pottery Class Throwing (experience only).

2. Pottery Class Handbuilding (stoneware).

3. Pottery Class Throwing (earthenware).

4. Pottery Class Throwing (stoneware).

Si KK langsung booking untuk tanggal 23 Juni 2026, tepat di hari ulang tahunnya. Dia memilih Pottery Class Handbuilding (stoneware) seharga IDR 350.000 per pax. Alasannya karena design pottery yang KK Mallika ingin buat itu tidak bisa dibuat dengan mesin atau handbuilding (pembuatan manual).  Kelas belangsung selama 90 menit, kami mendapat bahan stoneware clay (foodgrade) seberat 1 kg untuk dikreasikan menjadi 2 produk.

Bedanya dengan teknik Throwing, teknik pottery ini menggunakan mesin Wheel (dinamakan wheel throwing). Hasilnya bisa jauh lebih presisi dan mendekati ekspektasi pembuat.

 Sedangkan untuk bahannya, Stoneware itu clay putih dengan banyak campuran diproses panjang untuk menghasilkan clay yang halus. Biasa digunakan untuk tableware (foodgrade).

Earthenware itu clay merah, bahan murni tanah merah, pori-pori lebih besar, tekstur kasar. Hasilnya cocok untuk dekorasi dan tanaman.

Belajar tentang Ekspektasi vs Reality

Hari Selasa pekan ketiga di bulan Juni, kami berangkat tepat jam 07.00 pagi. Untuk menghindari kemacetan Ubud dan juga karena kelas yang kami booking akan dimulai pukul 09.00-10.30.

Tentu saja kami tak mau terlambat. Karena itu bisa berdampak ke durasi kelas.

Syukurnya kepadatan kendaraan dari Ungasan ke Ubud hari itu terukur sedang. Kami tiba tepat pukul 09.00, kami langsung menuju ruangan kelas tanpa sempat mengambil foto.

Kami bertiga, saya, KK Mallika, dan Tantenya Mallika memilih spot duduk nyaman di ruang Pottery Class Handbuilding (stoneware).

Handbuilding merupakan teknik manual menggunakan tangan (handmade). Jadi, untuk hasilnya bergantung dari bagaimana jari jemari kita berkreasi membentuk bahan clay tersebut.

Pagi itu kelas kami dipandu oleh Kak Monik dari Serayu Pottery. Diawali dari pengenalan alat kerja, bahan yang digunakan, durasi pembuatan, sampai ke penjelasan penting tentang risiko terjadi keretakan saat proses pembakaran.

“Biasanya clay retak karena kondisi ketebalan atau terlalu tipis.” kata Kak Monik sambil menunjukkan contoh clay yang retak.

Kelas dimulai, kami diminta membagi dua bahan yang sudah tersedia. Untuk diproses menjadi dua produk berbeda. Produk pertama kami buat mug, kedua kami buat piring kecil.

Saat menyentuh bahan clay ada sensasi dingin dan kenyal.

Fokus kami betul-betul teralihkan ke bahan clay masing-masing. Sesekali berceloteh dan bertanya ke Kak Monik yang dengan sabar menjelaska tahapan dan memperhatikan hasilnya.

Ini akan jadi kegiatan yang nggak ragu untuk diulang karena seru itu, bisa jadi momen relaksasi dan healing.

Sembilan puluh menit terasa cepat sekali berlalunya. Kak Monik baik hati memberi kami tambahan keluangan waktu untuk finishing di tahap mewarnai.

Saat proses pembuatan tentu kami membawa ekspektasi masing-masing, meskipun akhirnya harus menerima hasil. Belajar menerima hasil seapaadanya setelah usaha maksimal sudah dilakukan.

Kami baru menyadari membentuk clay menjadi bentuk sesuai yang kami inginkan itu ternyata penuh tantangan. Entah clay terlalu tebal, atau sebaliknya terlalu tipis saat proses slab (pemipihan clay menjadi bentuk lembaran). Ini untuk membuat piring atau sesuatu yang lebar.

Bisa jadi, bentuk clay tidak sepresisi yang kami harapkan. Ini terjadi saat proses pinching (teknik cubit), membuat lubang bagian tengah lalu memutarnya yang bisa saja terjadi kurang tekan atau terlalu menekan yang membuat clay jadi terlalu tebal atau terlalu tipis. Kalau ini, untuk membuat mug atau vas dengan lubang di tengah.

Tahap Finishing jadi Tahap Healing

Tahap menghaluskan permukaan dengan mengusap pakai spons, atau pakai jari, ditambah air sedikit untuk melembabkan jadi tahap yang paling asik.

Saat mencelupkan spons di dalam air, memeras, lalu mengusapnya di permukaan Clay seperti sedang meratakan foundation di wajah. Ini tahap mempercantik permukaan Pottery yang sesuai dibuat. Warna cokelat terang bertekstur lembut perlahan membaur di tangan dan masuk ke sela-sela jari.

“Ahhh, seru sekali”. Bahkan saat menuliskan pengalaman itu tahapannya masih saya ingat dengan rinci. Andaikan bahan-bahan itu ada di hadapan saya, nggak perlu menunggu lama akan langsung eksekusi dan membentuknya. Setelah permukaan halus, sambil kita perhatikan dan rasakan apakah ada bagian yang ketebalannya belum merata.

Begitu dirasa oke, Kak Monik akan langsung memindahkannya ke meja sebelah untuk dikeringkan. Ini baru tahap pengeringan awal, supaya permukaan bisa diwarnai.

Kami boleh memilih maksimal 5 warna. Waktu itu saya hanya memilih 3 – Hijau, Putih, dan Kuning. Tahap ini ibaratnya kita sedang menaburi wajah dengan bedak, lalu blush on, plus lipstik. Sampai-sampai sambil mewarnai bikin senyum-senyum sendiri saking terhibur lahir-batin.

Pottery Class = Unlocked Pengalaman Baru

Ada kepuasan tersendiri bisa menghadiahi anak sebuah pengalaman baru. Apalagi dia memang punya ketertarikan luar biasa di bidang seni rupa.

Selain seni lukis di atas kertas atau kanvas, kali ini si KK mencicipi seni yang berbeda. Seni Rupa lewat Clay.

Dia pun sengat menikmati setiap prosesnya, sampai saya dan tantenya sudah di tahap mewarnai, tapi si KK masih proses membentuk.

Ternyata pantas aja dia butuh waktu lebih, dia nggak hanya membuat mug lucu tapi mug dengan animasi.

Saya sampai terpana melihatnya. Betapa ya manusia yang diberkahi jari-jari seni itu mesti bersyukur karena apa aja yang dibuat pasti jadi bentuk seni yang selain enak dinikmati juga seapik itu.

Jadi, di ultah ke enam belas ini si KK bisa unlocked satu pengalaman baru. Entah ke depannya bakal jadi skill yang mau dia tekuni kita orangtua belum bisa prediksi.

Sepanjang dia enjoy, kegiatannya juga baik, kita kasih lampu hijau aja dan selalu dukung. Saya dan suami sepakat kalau bekal skill juga sangat dibutuhkan selain akademik di sekolah.

Bekal skill itu nantinya bisa diberdayakan jadi jalan cari rezeki dan membuka peluang baru.

Leave a Comment

Index