Aktivitas harian kita para IRT mungkin terdengar sepele dan monoton ya, Bun. Karena berkutat di hal-hal yang itu lagi, itu lagi. Dapur-Sumur-Kasur. Nggak heran, kadang rasa bosan menerpa dan membuat mood gampang berubah. Merasa diri tidak produktif karena hasilnya cenderung tidak terlihat.
Apalagi kalau dibandingkan dengan sebelumnya, waktu masih menjadi bagian korporasi, jadwal tertata rapi mulai dari pagi sampai sore atau malam hari. Hasil yang diterima setiap bulan jelas, jabatan juga jelas. Rasanya begitu produktif dan berdaya.
Akhirnya ya harus pandai mencari cara dan meluangkan waktu menemukan hal-hal yang masih bisa kita nikmati di antara segala hal yang kadang monoton, tapi membuat hati terasa penuh.
Salah satunya adalah yoga. Saya mengenal yoga sejak empat tahun lalu. Waktu itu, saya baru saja menjadi kontributor media liputan6.com untuk kanal health. Alhasil, materi tentang yoga dari berbagai perspektif menjadi topik yang cukup sering saya angkat di masa itu.

Apa Itu Yoga & Sound Healing
Buat saya pribadi, yoga bukan hanya olahraga yang membantu kelenturan dan napas. Tapi juga olah batin dan pikiran. Saat beryoga, guru kami Pak Putu Dwijendra, selalu menyelipkan esensi setiap gerakan yang sedang kami lakukan. Meskipun kadang ada bahasa filosofis yang nggak langsung saya pahami hari itu, tapi tubuh saya bereaksi.
Kadang tanpa disengaja ada bagian tubuh yang bergetar (shaking), dan sekali waktu air mata keluar begitu saja. Kalau kata Pak Putu, ada yang sedang dikeluarkan (released). “Biarkan lepas, jangan dibawa terus di pundak,” celetukan yang kadang terlontar dari Pak Putu saat sesi latihan.
Begitu juga dengan Sound Healing. Terapi suara dengan alat seperti mangkuk penyembuh bekerja menenangkan gelombang otak, mengurangi pikiran yang berisik dan tak menentu. Gabungan keduanya bisa melengkapi. Yoga merawat tubuh, Sound Healing menenangkan pikiran.
Journey to Wellness
Pagi itu jam masih menunjukkan pukul 05.49, saya dan seorang teman berkendara menuju area Nusa Dua. Udara dingin menembus jaket tebal yang waktu itu saya pakai. Kami begitu bersemangat mau ikut yoga bareng Pak Putu di Nusa Dua Beach Hotel – Handwritten Collection.
Begitu sampai di lokasi, kami disambut hujan geremis tipis beberapa menit. Tapi semua terbayar ketika matahari muncul di ufuk timur, dibarengi bias pelangi di langit biru. Semacam bonus buat kami yang hari itu ikhlas datang demi merawat diri.

Nama acaranya, Journey to Wellness. Sebuah acara yang diadakan untuk merayakan Hari Yoga Internasional yang selebrasinya diadakan setiap tanggal 21 Juni.
Begitu lihat posternya saya langsung bersemangat ingin ikutan. Selain karena sudah ‘kembali’ rutin beryoga setelah lama break, karena mager, dll, heheheh.
Alasan lainnya karena sepertinya saya lagi butuh untuk sesekali berbaur di keramaian. Buat perempuan introvert yang sudah lama break kantoran, kumpul-kumpul di keramaian mulai jarang saya lakukan selain tidak ada keperluan di situ, saya juga tipe yang butuh recharge cukup lama setelah berbaur di event yang melibatkan banyak orang.
Setelah mendaftar, saya kemudian kontak teman akrab. Kami sama-sama member Udana Yoga, dan sepertinya dia akan sama antusiasnya dengan saya. Ternyata, eh ternyata. Dia sudah daftar sehari lebih awal dari saya, huhuhu. Dia justru lebih bersemangat dari saya.

Makna Mendalam dari Proses Perjalanan Mengenal Diri
Yoga menjadi salah satu jalan ninja saya untuk ‘kembali’ mengenal diri lebih dekat. Sepuluh tahun jadi IRT Eks-Corporate sempat membuat saya ‘kehilangan’ diri sendiri.
Selama ini saya melabeli identitas diri lewat pekerjaan, begitu itu tidak saya miliki rasanya hilang juga jati diri saya. Alasan kenapa pekerjaan kemudian menjadi jati diri, ini panjang sekali ceritanya. Saya tulis di buku saya, Dari High Heels ke Sendal Jepit.
Long story short, di masa kehilangan diri sendiri ada dua pendekatan paling dominan yang saya pakai untuk kembali ke diri saya. Menulis dan Beryoga. Menulis ini ada banyak turunannya mulai dari jurnaling, menulis untuk blog pribadi, sampai menulis ke media buku.
Dua cara itu saya rasa paling powerful untuk saya. Catatannya prosesnya terjadi dalam kurun panjang, bertahap, dan butuh kesabaran juga konsistensi. Sound healing saya mulai akrabi setahun lalu, ini melengkapi proses kembali ke diri sendiri.
Kata konsisten juga Pak Putu sebut di sesi Wellness Talk Show kemarin. Konsisten beryoga dan melakukan aktivitas yang kita rasa bermanfaat akan mengantarkan saya pada hasil yang kita harapkan. Jadi, kalau upayamu belum membuahkan hasil, jangan buru-buru judge metodenya salah bisa jadi kamu hanya kurang sabar, melakukannya hanya saat mood baik saja.
Lakukan di kondisi apa pun, di waktu yang nyaman buatmu. Ini juga teguran untuk saya pribadi yang cenderung mudah dikendalikan oleh kondisi hati.
Eling-eling lagi, apa tujuan utama melakukan proses ini. Akan membantumu kembali ke track yang sudah kamu susun sebelumnya.
Efek Sunrise Yoga & Sound Healing
Sepulang dari event Journey to Wellness hati terasa penuh. Setelah beryoga di pagi hari saat matahari terbit ini sensasinya luar biasa. Apalagi kami beryoga di tepi pantai Nusa Dua. Angin sepoi-sepoi berpadu hangatnya sinar matahari pagi bikin hati berguman, “Nikmat apalagi yang mau kita dustakan.”
Tubuh bisa bergerak di kondisi sehat, kita punya waktu luang di antara kesibukan rumah adalah kombinasi kebahagiaan para IRT seperti kita.
Selesai yoga rehat sejenak ditemani snack lezat suguhan Nusa Dua Beach Hotel. Ada buah, beberapa potong pastry, dan air putih cukup mengisi ulang energi sebelum ke sesi berikutnya Sound Healing bareng Pak Komang Abdi dari The Balinese Healer.
Selama satu jam lebih menikmati paduan irama singing bowl membuat tubuh saya berterima kasih karena dia kembali terisi penuh, terkoneksi, dan rileks.

Ini Bukan Sekadar “Hobi”, Tapi Kebutuhan
Bagi mantan pekerja kantoran, saya terbiasa memecahkan masalah logis, tapi justru lupa cara “melepaskan kendali”
Karena setelah disadari, banyak hal jadi menyakitkan bukan karena hal spektakuler, tetapi tentang ekspektasi yang berbanding terbalik dengan realita. Terkadang kita terlalu ingin mengendalikan situasi seperti kehendak kita sendiri.
Setelah menjalani hari-hari sebagai full-time mom hampir satu dekade, IRT sering dianggap melakukan pekerjaannya “ringan”, padahal butuh tenaga besar untuk kembali terkoneksi dengan diri sebagai bahan bakar untuk bisa merawat keluarga dengan lebih baik.
Insight Penutup
Ingat ya Bun, kita para IRT juga manusia biasa yang bisa merasa capek dan jenuh. Itu lumrah. Hanya saja, kita mesti pandai mencari cara untuk kembali menemukan alasan kenapa kita mesti tetap sehat dan kuat.
Bukan hanya demi anak-anak dan pasangan, tapi untuk diri kita sendiri. Untuk menemukan versi hidup yang kita harapkan. Itu bukan hadiah atau pemberian siapa pun. Tapi sesuatu yang kita upayakan lewat jalan yang kita rasa aman dan nyaman.
Buat saya saat ini, kombinasi menulis, beryoga, dan sound healing adalah hal-hal ternyaman yang rutin saya lakukan. Termukan versi nyamanmu sendiri, agar setiap bangun pagi ada percikan semangat untuk menjalani hari baru dengan rasa optimis dan penuh syukur.

Seolah saya mengikuti sesi latihan yoganya. Lalu ikut merasakan ada bagian tubuh yang bergetar. Walau belum bisa sampai ada air mata yg keluar begitu saja. Dan itu tandanya saya belum bisa mengeluarkan (released) hal hal yang membebani saya selama ini ya…
Penasaran juga dengan Sound Healing nya
Terapi suara dengan alat seperti mangkuk penyembuh bekerja menenangkan gelombang otak, mengurangi pikiran yang tak menentu. Mungkin saya juga perlu terapi seperti itu…
Sound healing itu salah satu media relaksasiku, mbaaa. Apalagi kalau dapet irama yang oke, bisa terharu sepanjang sesi…
Waaah dikau mantan jurnalis , yaa mbak! Keren euy, butuh waktu yang … ehem buat jadi IRT hahaha.. tosss kita yaa! Aku bukan dari jurnalis, tapi aku terbiasa kerja yang di bawah pressure karena jadi manager di 2 perusahaan sekaligus (karena kerjaan satunya pake shift)
Aku suka banget tulisan ini, karena rasanya relate untuk banyak perempuan yang pernah ada di fase hidup serba cepat, sibuk ngurus target, kerjaan, keluarga, sampai tanpa sadar jadi kehilangan koneksi sama diri sendiri
Aku udah pernah coba yoga, tapi kurang cocok (anaknyasukanya toing toing zumba atau aerobik) nah aku penasaran karena baru baca tentang sound healing..
Aku pernah nonton di serial HGTV yang Christina Haack- dia pake sound healing – apakah sama ?
Yes, jujur, proses kembali terkoneksi itu nggak harus selalu dramatis… kadang cukup dengan memberi tubuh dan pikiran kesempatan untuk pelan-pelan pulih. Sebagai mantan corporate yang sekarang jadi IRT, journey ini terasa powerful banget. Reminder manis bahwa di tengah semua peran yang kita jalani, diri kita sendiri juga tetap perlu dirawat, thx ya mbak dah sharing
Iya, mbaaa. beberapa tahun lalu nulis untuk media online cuman mesti stop karena waktunya nggak memungkinkan.
Judul event nya tepat banget ya Ga. Journey to Wellness. Bukan hanya menyentuh kesehatan fisik tapi juga mendongkrak kualitas di dalam diri kita. Tentang ketenangan hati dan kenyamanan jiwa serta mengajak kita menjadi (jauh) lebih baik fisik dan mental.
BTW, I envy you much Ga. Pengen deh suatu saat mencoba yoga, singing bowl, dan mengembalikan diri ke titik di mana kita “kembali ke asal” dan menikmati kesempatan untuk mengevaluasi diri. Dan bonusnya dilakukan di Nusa Dua Bali. Tempat favorit ku di bumi dewata. Ah jadi kebayang deh kenangan puluhan tahun yang lalu. Tinggal dan kerja di Grand Hyatt. Selalu menyempatkan diri berjalan di pasir putih di depan hotel sehabis subuh dan menjelang senja. Memori yang menyenangkan banget.
Nanti pas ke Bali yuk mbaaa, cobain…
segala sesuatu apapun, kalau dilakukan berulang setiap hari, pasti akan menghadirkan kejenuhan juga. termasuk aktivitas sebagai Ibu Rumah Tangga. Makanya hadir Istilah IRT hanya seputar 3R. Dapur, sumur dan kasur.
Dan Mbak Mega keren menemukan cara keluar dari kebosanan itu. Pilihan latihan Yoga sangat keren, karena tidak hanya mental sehat, tapi fisik juga.
Termasuk ikut event yoga di Nusa Dua Bali ini. Saat pagi hari, ditemani matahari terbit dan angin yang berhembus.
Sempet On-Off sih Mas, tapi akhirnya kembali lagi karena memang bermanfaat.
Transisi dari ritme kerja korporat yang serba cepat menjadi Ibu Rumah Tangga itu memang membutuhkan adaptasi mental yang luar biasa besar, dan sering kali kita kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Kombinasi yoga dan sound healing sepertinya memang jadi ruang aman yang sempurna untuk recharge energi dan mengenali diri lagi.
Saya sepakat dengan bagian akhir dari tulisan ini. Setiap orang bisa memiliki cara nyaman yang berbeda. Tapi, tujuannya sama yaitu berusaha tetap sehat dan bahagia. Karena kalau IRT udah bahagia, anggota keluarga lainnya juga biasanya ikut bahagia
Butuh ‘adaptasi mental’ yesss bener banget mbaaaa
Journey to Wellness. Aku tuh sudah diajakin yoga mulu sama sahabatku. Sayang e lokasi yoganya tuh jauh banget dari tempat tinggalku. Mau yoga sendiri kok masih suka mager.
Andai, di daerah sini juga ada event begini. Aku pasti ikutan.
Bisa mulai dari rumah aja, Mbaaa. Pakai tutorial youtube banyak yang bagus-bagus.
ini sih bukan cuma Yoga & Sound Healing tapi sambil healing jugaa…
lah yoganya di rerumputan depan pantai dan di Bali pula mbak , huhuu aku pun mauuuu
Terakhir aku ikut yoga di sebuah event, dipandu sama Anjasmara dan ada kendi2/bowl yang dipukul2 menghasilkan bunyi yang betul2 menenangkan…
Iyesss mba, itu pas banget di tepi pantai. Rasanya kayak badan dan pikiran betul-betul dimanjakan. Sesekali kita butuh momen seperti ini biar tetep jadi ibu yang sehat lahir-batin.
jadi inget keinginan yang selalu tertunda: yoga
Banyak yang ngajakin, mulai dari teman pengajian sampai teman lingkungan karena ada yang punya club khusus
bangun paginya ini yang susah, karena udah beberapa waktu terakhir mengalami insomnia
padahal mungkin bisa sembuh dengan yoga ya?
Sangat mungkin, Ambu. Relaksasi dan melatih kelenturan itu dua efek baik yoga. Insya Allah dengan rutin (sore pun oke),Insomnia Ambu bisa teratasi. Semangat Ambu, hugs.