Lewat tulisan ini saya mau protes ke Kak Nago Tejena “Kenapa baru sekarang menulis buku, Aku yang Sudah Lama Hilang sih, Kak…!?!
Saya juga mau memarahi tim UWRF, mau mengomeli Shelf Therapy Club, Kenapa baru sekarang mengundang Kak Nago untuk membahas sesuatu tentang kehilangan diri lewat talkshow akhir pekan kemarin?

“Kenapa, Kak…?!?”
Setelah sembilan tahun lebih saya menunggu ada yang mengirimkan jawaban atas pertanyaan yang dulu terus saya cari jawabannya tentang, “Siapa diri saya?”
Label sosial, label pekerjaan apa yang pas buat saya, si mantan pekerja kantoran ini?
Selama sembilan tahun itu, saya sibuk mencari kembali sebuah identitas diri yang ternyata amat penting buat saya. Herannya, baru saya sadar ketika tidak banyak lagi label sosial yang saya punya saat itu.
Sejalan dengan waktu, jawaban demi jawaban hadir satu per satu secara tipis dan halus. Ternyata memang kita sendiri yang harus mencari jawaban itu. Seperti yang Kak Nago bicarakan kemarin kalau menanyakan kepada diri sendiri tentang maunya apa, rencananya apa? Itu ternyata salah satu jalan untuk pelan-pelan menemukan jawabannya.
Bicara tentang jawaban juga bukan soal benar atau salah tepat atau tidak tepat tapi keinginan kita yang terus menerus berusaha mencari dan menemukannya sendiri.
Mungkin saja kalau Kak Nago datang di waktu itu, kalau UWRF, Shelf Therapy, dan Katha Bercerita sudah bikin acara ini sembilan tahun lalu, efeknya bisa jadi berbeda.
Kenapa? Ya karena saya memang harus mencari sendiri jawabannya dan minimalisir bertanya ke luar diri. Meskipun jatuh-bangun, sempat beberapa kali menyalahkan diri sendiri, tapi syukurnya tetap dijalani dan tidak menyerah.
Karena kalau hanya berpasrah apalagi mundur maka segala opsi dan kemungkinan yang akan datang akan tertutup.
Ketakutan Hidup Tanpa ‘Identitas’
Identitas yang dimaksud di sini adalah tentang label pekerjaan.
Sebagai mantan pekerja kantoran yang memutuskan resign untuk menjaga anak kedua tanpa persiapan apa pun, langsung terjun bebas. Hasilnya? Ya bingung sendiri.
Label pekerjaan ternyata sepenting itu. Terutama saat tidak sengaja bertemu mantan kolega, lalu ditanya, “Kerja di mana sekarang?”
Rasanya kok kurang keren kalau jawab, “Ibu rumah tangga.”
Buat sebagian orang ada yang berpikir, masih muda tapi “milih di rumah aja” itu kayak keputusan aneh dan malas.
Stigma seperti itu yang akhirnya membuat saya merasa wajib menemukan “pekerjaan” baru atau sesuatu yang bisa saya tempelkan ke diri saya sekarang.
Tapi ternyata, menemukan itu jauh lebih sulit dari mencari jarum di tumpukan jerami.
Saya bahkan belum tahu apa sebenarnya minat saya. Karena sepanjang 17 tahun bekerja, motivasinya cuma satu: keterdesakan ekonomi keluarga.
Sebagai anak pertama, saya waktu itu merasa harus jadi tameng. Keluarga porak-poranda setelah ayah diberhentikan dari pekerjaannya akibat krisis ekonomi tahun ‘98.
Jadi saya pikir, “Saya harus cepat kerja. Kalau nggak, gimana ekonomi keluarga?”
Mega Kecil yang Kebingungan
Saya yang waktu itu belum matang baik secara fisik maupun psikis, sudah dipaksa untuk berpikir dewasa. Begitu ijazah SMA di tangan, saya langsung gerilya cari kerja, meskipun pendidikan tidak tinggi dan bukan dari sekolah unggulan.
Waktu berjalan.
Tuhan kasih saya kesempatan berganti-ganti pekerjaan yang cukup untuk bantu ekonomi keluarga, terutama adik-adik saya yang masih butuh biaya.
Tapi terlalu fokus ke tujuan itu bikin saya lupa (atau tepatnya kurang paham) kalau saya mengabaikan banyak hal termasuk untuk mengetahui apa yang saya suka dan luka-luka dalam diri yang nggak pernah sempat saya proses.
Butuh waktu panjang untuk menelusuri akar semua itu. Mungkin sampai sekarang pun belum sepenuhnya saya temukan, tapi setidaknya sekarang saya lebih ajeg. Lebih bisa menerima bahwa hidup memang untuk dijalani bukan sekadar soal label pekerjaan, status sosial, atau validasi orang lain.
Tapi tentang: seberapa jauh kita bisa menikmati hidup dengan apa adanya.
Bersyukur dari lubuk hati, bukan sekadar formalitas atau rutinitas yang dituntut manusia yang berketuhanan. Bersyukur yang sungguh-sungguh diucap dengan lisan, dirasakan dalam hati, tanpa embel-embel “tapi.”

Menyisipkan Passion di Profession
Meskipun sudah masuk usia 40 dan banyak hal terlewati. Ternyata kita masih bisa menjalankan yang kita sukai di antara kewajiban orang dewasa.
Caranya seperti yang Kak Nago kasih yaitu dengan menyisipkan inti (core) dari passion yang kita suka ke dalam aktivitas rutin yang kita lakukan saat ini.
Misalkan saya yang dulu pekerja hospitality masih bisa melakukannya dengan subyeknya anak-anak dan keluarga. Atau bisa jadi dengan menyediakan waktu untuk dua kegiatan yang saya sukai yaitu menulis dan membaca sekadar untuk mengisi ulang diri.

Terima kasih Kak Nago Tejena, Kak Dedy di Katha Bercerita, tim Shelf Therapy Club, tim UWRF, Penerbit, dan semua pihak yang sudah jadi perpanjangan tangan semesta untuk bantu banyak “anak” seperti saya yang pernah kehilangan dirinya, akhirnya menemukan lagi jalan pulangnya.