IRT 40+: Cara Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain ini merupakan tulisan kedua dari rangkaian 7 Langkah Reset Diri & Upgrade Skill untuk IRT dari Rumah.
Di tulisan pertama membahas tentang Reset Identitas Diri IRT 40+ Menerima Fase Hidup Tanpa Merasa Gagal. Di sana ada proses para IRT menerima fase baru dalam hidupnya. Sedangkan pada tulisan kedua kali ini membahas hambatan terbesar para IRT yang ingin reset dirinya yaitu kebiasaan membandingkan.
Ketujuh ini bisa dibaca secara runut dari tulisan 1 sampai 7, boleh juga secara acak mengikuti kebutuhan masing-masing.
Kalau ditanya, seberapa banyak kita berinteraksi dengan sesama manusia setiap harinya. Jawabannya tentu beragam, tergantung apa profesi dan kebutuhan dari interaksi tersebut.

Pertanyaan berikutnya, lebih banyak mana kita berinteraksi fisik secara langsung, atau lewat dunia maya. Jawabannya bisa jadi interkasi dengan manusia di dunia maya jauh lebih riuh daripada pertemanan kita di dunia nyata.
Hal ini tentu tidak selalu merujuk ke hal negatif, tapi kecanggihan teknologi membuat kita seakan tanpa jarak dengan mereka yang bahkan berada di kota atau negara yang berbeda dengan domisili kita.
Sayangnya, dualisme kehidupan tidak bisa dihindarkan. Ketika ada benefit, ada juga dampaknya. Kita kadang sering tidak memfilter apa saja yang sudah kita konsumsi dari kegiatan bermedia sosial.
Apa yang harus diikuti, mana yang sebaiknya diabaikan saja. Mana yang perlu dipikirkan, mana yang sekadar lewat.
Ada teman yang baru naik jabatan, ada yang launching bisnis, ada yang travelling ke luar negeri, ada yang terlihat produktif, glowing, percaya diri. Lalu secara spontan muncul deh kalimat di hati kecil kita,
“Kenapa hidupku kok begini-begini aja ya?”
Kondisi membandingkan itu lama-lama bisa jadi toxic comparison. Kebiasaan membandingkan yang kemudian justru bumerang ke diri sendiri.

Efek Toxic Comparison bagi IRT 40+ Agar Berhenti Membandingkan Diri
Perlu kita perhatikan baik-baik kalau apa yang diperlihatkan orang lain di media sosialnya adalah potongan terbaik hidupnya. Kita bahkan nggak sadar, ada bagian lain yang mereka tutupi dalam ranah pribadi.
Sayangnya, potongan yang hanya secuil itu justru membuat kita terburu-buru merasa tertinggal.
Efek buruk toxic comparison yang baiknya mulai kita sadari:
Pertama, bisa mengikis rasa percaya diri.
- Kita mulai meragukan keputusan hidup sendiri.
- Apakah dulu salah ambil keputusan berhenti bekerja?
- Apakah terlalu lama fokus pada keluarga?
- Apakah sudah terlambat untuk mulai lagi?
Kedua, menciptakan tekanan yang tidak perlu. Padahal proses reset diri butuh ruang tenang. Butuh kejelasan. Butuh energi yang stabil.
Ketiga, membuat kita melihat hidup sebagai perlombaan. Padahal hidup bukan lomba lari dengan garis finish yang sama.
Ketika terus membandingkan, energi yang seharusnya dipakai untuk bertumbuh justru habis untuk mengukur jarak dengan orang lain dan itu sangat melelahkan.
Satu Fakta Penting: Timeline Hidup Setiap Orang Berbeda
Tidak semua orang memiliki titik mulai yang sama. Tidak semua orang menghadapi kondisi keluarga, ekonomi, kesehatan, atau tanggung jawab yang sama.
Ada yang bisa fokus membangun karier tanpa jeda, ada yang memilih berhenti demi keluarga, ada yang memulai bisnis karena terpaksa, dan ada yang karena passion.
Semua punya konteks masing-masing.

Masalahnya, media sosial membuat semuanya terlihat seolah berada di jalur yang sama dan harus sampai di titik tertentu pada usia tertentu.
- Usia 30 harus sudah mapan.
- Usia 35 harus punya aset.
- Usia 40 harus sudah sukses. Padahal hidup jauh lebih kompleks dari itu.
Bagi IRT 40+ yang sedang reset diri, fase ini justru sering menjadi titik paling matang untuk memulai ulang. Kita sudah lebih stabil secara emosional, lebih tahu apa yang penting, dan tidak lagi mudah tergoda oleh pengakuan semata. Karena ini bukan fase terlambat, tapi fase selektif.
Mini Challenge 2×24 Jam: Latihan IRT 40+ Berhenti Membandingkan Diri

Untuk benar-benar merasakan perubahan, coba lakukan ini selama minimal 2×24 jam ke depan:
- Batasi akses diri dengan media sosial.
Hari pertama kurangi durasinya. Buka saat ada notifikasi saja. Bukan doomscrolling.
Hari kedua, coba tanpa media sosial
Langkah ini biasa di sebut Social Media Detox
Berapa lama durasi dan tekniknya mengikuti kebutuhanmu dengan media sosial. Karena pastikan proses detoks ini tidak menganggu interaksimu apalagi jika berkaitan dengan pekerjaan (seperti freelancer,dll).
- Evaluasi berkala, jika memungkinkan coba tambah durasinya.
- Rasakan sensasi berbeda
Kali pertama mempraktikkan Social Media Detox ini, jujur berat di hari pertama dan kedua, tapi setelah lewat masa ketergantungan justru terasa ringan ketika hidup kita nggak lagi tergantung ke seberapa banyak tombol hati di postingan kita.
Reset diri IRT di usia 40+ bukan tentang mengejar hidup orang lain atau membuktikan sesuatu pada dunia. Tapi tentang kembali fokus pada jalur sendiri.
Hari ini mungkin langkah terbesarmu bukan memulai bisnis atau mengambil kelas baru, tapi berhenti membandingkan. Di situlah ruang untuk bertumbuh benar-benar terbuka.
Inilah saatnya di mana kita hanya perlu untuk memfokuskan diri hanya pada proses diri kita sendiri. Sekali lagi! Fokus pada diri sendiri. Kalau perlu pasang kacamata kuda di kurun waktu itu supaya nggak tergoda melihat ke luar dan kembali sibuk melihat ke dalam diri.