Belakangan saya rindu sekali akan masa-masa rutin menulis resensi buku bacaan seperti dulu. Padahal sudah banyak bahan yang mengantre untuk ditulis, tapi selalu ada alasan untuk menunda dan akhirnya lupa.
Kali ini saya nggak mau kehilangan momen ‘AHA‘ setelah selesai membaca. Saat semuanya masih segar di ingatan dan di hati. Buku Anak Kecil yang Kehilangan Pundaknya baru tadi pagi selesai dibaca dalam waktu sekali duduk, kurang lebih satu setengah jam.
Membacanya memang tidak butuh waktu terlalu lama. Karena penyajian minimalisnya dalam bentuk kutipan-kutipan perasaan penulis tentang perjalanan masa kecilnya.
Satu halaman bahkan ada yang hanya berisi satu kalimat saja, diperkuat dengan hadirnya ilustrasi berupa lukisan tangan.

Eitsss… tapi jangan anggap remeh dulu ya, meskipun penyampaiannya minimalis, buku ini semacam refleksi dan curahan hati terdalam si penulis tentang cerita kanak-kanak hingga remajanya.
Terutama di bagian kehadiran dan fungsi seorang ayah. Ada anak yang mesti mengalami kealphaan fisik atau kehadiran sosok ayah, tapi di lain sisi ada juga anak yang ayahnya hadir secara fisik namun tidak melakukan fungsinya sebagai ayah.
Keduanya sama-sama menyakitkan, sama-sama memengaruhi perjalanan seorang anak dari anak kecil, menjadi remaja, lalu tumbuh jadi dewasa seutuhnya.
Kehilangan Sosok Ayah

“Anak yang masa kecilnya bahagia, akan berbeda dengan anak-anak yang masa kecilnya penuh luka.”
Ungkapan yang lahir dari pengalaman paling personal penulis ini terekam begitu jelas. Ada semacam garis batas yang membedakan antara anak yang tumbuh dengan suka atau luka. Kondisi itu ikut berkontribusi terhadap bagaimana pertumbuhan mereka menuju fase remaja ke dewasa.
Meskipun itu bukan berarti kalau masa kecil yang keras dan penuh luka berarti dewasa nanti bakal menderita atau sebaliknya. Bagi saya pribadi, kita mungkin nggak bisa memilih mau lahir dari orang tua dan kondisi seperti apa, tapi kita masih punya pilihan bagaimana kita akan menjalani masa dewasa kita.
Ada upaya-upaya yang bisa ditempuh untuk mendapatkan masa dewasa yang bahagia, walaupun berawal dari masa kecil penuh luka. Tapi catatannya, butuh kesadaran dan kemauan dari dalam diri kita.
Menguliti dan Mengenali Luka Batin

Bisa dibayangkan sebanyak apa energi yang dikeluarkan penulis untuk mengorek luka masa kecil, lalu menuliskannya. Saya selaku pembaca saja butuh energi besar untuk membaca dari bab 1 sampai 5.
Membaca dan merasakan kalimat demi kalimat yang meski singkat, tapi berat, bahkan sampai menahan air mata.
Bukan hanya karena tersentuh oleh kalimat yang dirangkai si penulis, tapi ikut terbawa ke masa-masa di mana luka itu begitu menganga.
Ketika bertambah usia dan menjadi dewasa, ada hal-hal yang mesti kita lepaskan, apalagi kalau dia sudah tidak selaras dengan pertumbuhan batiniah kita. Termasuk di dalamnya adalah memelihara luka.
Bagi saya pribadi, luka yang dipelihara tidak akan sembuh dengan sendirinya. Melainkan akan mengundang luka lainnya untuk berkoloni dan menekan makin dalam dan lebih dalam lalu berkerak di hati kita. Terlebih jika saat ini kita sudah menjadi seorang istri dan ibu. Maka luka itu jangan sampai kita wariskan kepada anak cucu kita.
Penulisnya, Kak Khoirul Trian, sedang berproses mengeluarkan luka-luka itu lewat kata demi kata, kalimat demi kalimat. Rasanya pasti jauh lebih ringan ya, Kak, daripada dibawanya terus sampai nanti dan nanti.
Sepanjang membaca, ada beberapa bagian luka yang saya kenali identitasnya karena saya sendiri juga mengalaminya. Seperti rasa sedih, kecewa, dan beratnya menjadi dewasa. Ternyata mengenali luka saja butuh waktu yang panjang, itu pun jika tidak kita abaikan.
Herannya, luka-luka itu justru sudah kita rasakan selama belasan atau puluhan tahun, tapi kita belum tahu bagaimana membahasakannya. Di saat inilah kita butuh bantuan dari luar untuk memantik dan mengenalinya, salah satunya lewat bacaan seperti ini.
Karena ketika sebuah luka sudah berhasil kita bahasakan dan kenali sifatnya, akan lebih mudah untuk me-release dan melepaskannya perlahan. Ingat kata perlahan tidak bisa tergesa-gesa.
Setiap Bab Mewakili Prosesnya

Bab 1 – Anak Kecil dan Lukanya
Di sini kita bisa merasakan luka demi luka yang dialami penulis. Ada masa dia menangisi ayahnya yang tidak pulang, iri dengan teman yang diantar-jemput ke sekolah dengan ayah mereka, sampai ke harapan sang ayah ingat kapan ulang tahunnya.
Bab 2 – Anak Kecil yang Pernah Bahagia
Di bagian ini saya sangat tersentuh oleh pernyataan, “Kalau tahu dewasa serumit ini, mungkin aku akan memilih hidup di usia sepuluh tahun saja.”
Semacam menormalisasi kegetiran hidup. Padahal masa kecilnya saja begitu luka, tapi ternyata menuju dewasa justru jauh lebih luka.
Bab 3 – Anak Kecil yang Kehilangan Pundaknya
Bab ini adalah puncak ‘patah hati’ seorang anak manusia sepanjang menjalani kehidupan. Tidak hanya tatapan, tapi terselip penyadaran diri bahwa kita hanya manusia yang sedang goyah dan sebentar lagi mau rebah.
Satu kalimat di halaman 81 ikut ‘menampar’ rasa sok kuat yang udah kadung mendarah daging.
“Jangan sok independent gitu, lah! Lihat tuh, inner child-mu teriak-teriak minta dimanja. “
Satu pernyataan yang lahir dari seorang anak yang sebetulnya lelah dan butuh dibantu, tapi sepertinya bantuan itu tidak kunjung datang dan dia terbiasa mengerjakan apa-apa sendirian. Sampai akhirnya dia sadar, kalau tidak bisa terus begitu karena dia memang bukan Superman seperti di cerita fiksi itu.
Bab 4 – Anak Kecil yang Beranjak Dewasa
Di bagian ini, si anak penuh luka sudah beranjak dewasa. Banyak hal yang dia makin sadari, yaitu mulai mencintai dirinya sendiri.
“Satu-satunya orang yang saat ini sedang ingin aku cintai juga satu-satunya orang yang ingin aku rawat dan aku lindungi adalah diriku sendiri.”
Bab 5 – Dewasa Kini, Ia Mencoba Berdamai dengan Masa Kecilnya.
Ternyata dewasa bukan hanya ketika kita sudah bisa memegang telinga kiri dengan tangan kanan.
Bagian semacam cooling-down moment setelah masa-masa luka. Bahkan di ujung penutup ada selembar ungkapan semacam refleksi untuk memeluk inner-child kita.
Ada ajakan untuk menyapa diri kita dengan panggilan masa kecil, menuliskan apa cita-cita kita, dan hal-hal apa yang belum tercapai. Setelah menuliskan, tutup buku ini dan peluk erat sambil berdoa agar Tuhan membantu mengaminkan.
Berdamai itu Melegakan

Semakin dewasa, semakin paham bahwa makna bahagia bukan hanya tentang harta. Cukup satu orang yang bisa menjadi tempat pulang. Bagiku itu makna bahagiaku sekarang.
Bahkan dari hal terburuk sekali pun, akan ada waktunya kita akan menang. Perihal kapan tibanya itu, Tuhan senang menyembunyikannya dari kita.
Dari buku Anak Kecil yang Kehilangan Pundaknya, saya belajar tentang proses mulai dari mengenali luka sampai bisa berdamai.
Saya yang tengah memproses banyak hal beberapa tahun belakangan merasakan bahwa buku yang kita beli dari toko buku pun bukan perkara suka dan mampu membelinya. Tapi bisa saja di sana ada jalan yang membantu proses kita memulihkan diri dari luka lama.
Buatmu, buat kita semua yang sedang sama-sama berproses, terutama para Ibu, buku ini bisa jadi teman perjalananmu. Supaya anak-anak kita tidak perlu ikut merasakan luka yang dibawa ibunya.
Begitu selesai membacanya, kita juga bisa membuka secara acak halamannya dan menjadikan kutipan yang terpilih sebagai prompt jurnaling pada hari itu. Saya mencobanya semalam dan tidak hanya jurnaling, tetapi resensi ini pun bisa selesai ditulis.
