The Devil Wears Prada 2: Berani Beradaptasi atau Mati

Flash back ke dua dekade lalu, Aku menonton Devil Wears Prada dengan berstatus single. Waktu itu aku anak perempuan umur 20-an, punya banyak impian dan keinginan.

Saking kepincutnya dengan film ini entah beberapa kali piringan DVD aku putar-putar ulang hanya untuk melihat adegan Andrea/Andy Sachs yang diperankan bintang film favoritku, Anne Hathaway.

Beberapa adegan favorit seperti waktu kali pertama Andy Sanchs melamar ke Runaway. Bagaimana canggungnya dia dengan sweater biru sederhana menghadapi si Devil, Miranda Priestly dan adegan saat Andy berjalan di New York City dengan beberapa busana dari rumah mode dunia berlatar lagu “Suddenly I See,” auto bikin goyang dan senyum sendiri kalau mendengar lagu itu.

Kala itu POV seorang Miranda Priestly, Andy Sachs, dan Emily bagaikan magnet yang isinya perpaduan tiga perempuan workaholic dengan karakter mereka masing-masing.

Hari ini, setelah dua puluh tahun berselang, aku kembali menonton sekuelnya dengan kondisi yang jauh berbeda. Aku sudah menikah, punya anak, dan juga seorang eks. Human Resource dan kontributor media. Dan kali ini aku tidak menontonnya sendirian, tapi bersama adik dan anak perempuanku yang sudah berusia remaja.

Kacamata Ex-HR: Membaca Karakter Bukan Sekadar Fiksi

Dalam dunia fiksi, karakter para tokoh bukan sekadar tempelan identitas. Mereka adalah nyawa dari seluruh cerita. Termasuk tokoh antagonis dan protagonis yang diciptakan agar cerita terasa natural dan riil.

Bagi mereka yang pernah bekerja di dunia HR, ‘membaca’ karakter bukan hobi, itu adalah pekerjaan. Dan kali ini menonton DPW 2 dengan kacamata tersebut terasa seperti membuka file lama yang sangat familiar.

Miranda Priestly – Si Visioner yang Mengesalkan

Bagi khalayak umum, Miranda Priestly adalah antagonis sejati. Dia arogan, perfeksionis, mendominasi. Tapi dari kacamata HR, aku melihat sesuatu yang berbeda: Miranda adalah tipikal pemimpin visioner yang sering disalahpahami lingkungannya.

Di balik sikapnya yang dingin, Mirandalah motor penggerak Runaway hingga bertahan di jajaran atas media fashion New York. Namun gaya kepemimpinannya menyimpan masalah yang tidak kecil. Ia bukan tipe yang terbuka pada masukan. Baginya, pendapatnya adalah yang paling baik dan pantas untuk langsung dijalankan. Baginya, tak ada ruang untuk berdebat, apalagi menolak usulannya.

Ada satu hal menarik, di balik semua dominasinya, Miranda tetaplah manusia yang membutuhkan manusia lain. Ia tetap membutuhkan, meskipun tak mau terlihat membutuhkan. Dan itulah kontradiksi yang paling manusiawi dari seorang top leader di  Runaway.

Andrea Sachs – Si Peacemaker dengan Can Do Attitude

Dua puluh tahun berselang, Andy Sachs masih sosok yang aku kenali di film pertama. Masih seorang perempuan single yang pantang menyerah, tidak baperan, dan seorang peacemaker yang selalu mampu mencari solusi di tengah kekacauan.

Di balik ketangguhan Andy, aku melihat sesuatu yang lebih jujur yaitu seorang perempuan yang bertahan bukan semata karena passion, tapi karena ia harus bertahan.

Ada kebutuhan yang lebih besar dari sekadar ambisi karir yang mendorongnya tetap kuat berdisi di lingkungan yang tidak selalu ramah dan bersahabat.

Aku mengenali perasaan itu. Itu aku saat masih menjadi bagian korporasi.

Kondisi kerja mengharuskan kita bisa beradaptasi dengan berbagai gaya kepemimpinan, dan itu sangat tidak mudah. Sebagai individu yang juga punya idealisme, harus menerima kalau ada ‘suara’ yang tidak selalu bisa ditanggapi.

Tapi saat itu aku tidak bisa pergi begitu saja karena ada tanggung jawab kepada orang-orang tersayang yang lebih besar dari sekadar rasa lelah.

Istilah Can Do Attitude pertama kali aku dapati dari seorang pimpinan HR. Ditujukan kepadaku dengan makna sederhana. Aku adalah seorang pekerja yang tidak akan menyerah sebelum mencoba semua cara yang mampu aku lakukan.

Waktu itu aku pikir sih hanya seumpama jargon motivasi. Tapi sekarang jadi lebih paham, itu sebuah mekanisme bertahan di tengah kondisi yang tidak ideal.

Emily Charlton – Si Cerdas yang Baperan

Emily adalah tipe pegawai yang dibutuhkan.  Dia cerdas, cekatan, dan mampu bekerja di bawah tekanan tinggi. Tapi Emily juga menyimpan sisi yang bisa merugikan dirinya sendiri. Sifat sensitif, mudah tersinggung, dan punya memori yang panjang soal perlakuan buruk yang pernah ia terima.

Ini terlihat dari taktiknya di DPW 2 melakukan sesuatu di luar nalar kepada mantan bosnya karena didasari dendam lama saat ia pernah digeser dari Runaway. Meskipun penggantinya adalah posisi eksekutif bergengsi di rumah mode Christian Dior, itu tidak membuatnya melupakan luka lama. Dia tetap mencari cara untuk bisa melepaskan rasa kecewanya.

Nigel Kipling – Si Anti Conflict Club

Jika Miranda adalah api, maka bisa kita sebut Nigel adalah airnya. Dia tipe orang yang tidak suka konflik, tidak tertarik mendominasi, dan tampaknya nyaman mengalir mengikuti arus. Pertemanannya dengan Miranda yang sudah bertahun-tahun bukan tanpa alasan. Nigel adalah penyeimbang yang selalu ada tanpa meminta pengakuan dari siapa pun.

Tapi jangan salah sangka, Nigel bukan sosok lemah. Selera dan kemampuannya di dunia fashion adalah salah satu fondasi terkuat Runaway. Tanpa Nigel, majalah itu akan kehilangan rasanya. Ini buktu bahwa kontribusi besar tidak selalu datang dari yang paling mendominasi di ruangan.

Kacamata Kontributor Media: Seberapa Realistis Dunia Feature di Sekuel?

Dari dunia HR, aku beralih ke kacamata lain yaitu dunia media yang sedang aku jalani sebagai kontributor media.

Di sekuel Devil Wears Prada, Andy Sachs kembali ke Runaway setelah 20 tahun menghabiskan waktunya bekerja sebagai editor-in-chief media lokal. Kali ini dia didapuk sebagai Features Editor. 

Tulisan feature memang jenis tulisan yang paling cocok untuk majalah fashion. Di sini ada penggabungan antara fakta dan gaya bercerita yang natural dan manusiawi. Penulisnya dapat menyelami sosok dan peristiwa secara lebih dalam dari sekedar artikel berita biasa.

Tapi ada satu perntanyaan yang masih mengangguku setelah menonton DPW 2, “Apakah tulisan feature benar-benar bisa membawa perubahan sebesar itu dalam waktu singkat?”

Di dalam film digambarkan bagaimana tulisan Andy Sachs mampu mengubah persepsi publik terhadap Runaway yang kala itu pamornya sedang turun dan mengembalikan loyalitas pembaca yang bisa dibilang nyaris hilang. Sebagai seorang kontributor media, jujur Aku skeptis.

Bukan karena feature tidak powerful. Aku sangat percaya tulisan yang baik punya kekuatan. Tapi kenyataan di lapangan, prosesnya tidak bisa secepat itu. Sebuah feature yang benar-benar menggerakkan pembaca membutuhkan waktu.

Perubahan persepsi tidak terjadi dalam satu edisi. Ini yang terasa terlalu “Fairy Tale” bagiku sebagai orang yang hidup di dalam industri ini.

Bisa saja keterbatasan durasi film membuatnya harus disederahanakan. Upaya itu terlihat dari hadirnya Sasha Barnes (Lucy Liu) bak pembuka kotak pandora. Tulisan Andy Sachs tentang kehidupan Sasha Barner yang merupakan seorang designer memberi ‘karpet merah’ pada Runaway untuk bisa punya kesempatan kedua mendapatkan lagi atensi publik.

Berani Beradaptasi atau Mati

Bagian ini adalah ‘daging utama’ dari sekuel Devil Wears Prada. Media cetak yang dulu berjaya seperti koran, majalah, tabloid kini menghadapi kenyataan yang tidak bisa lagi dinegosiasi.

Dulu bisa terjual ratusan sampai ribuan eksemplar per bulan, kini belasan pun sudah terasa mewah. Runaway sebagai simbol kebesaran media fashion cetak pun tidak luput dari tekanan yang sama.

Para seniman yang selama ini bekerja dengan tangan dan intuisi harus mau menggeser cara kerja mereka ke ranah digital. AI kini bukan lagi ancaman abstrak, tapi sudah masuk ke dalam proses kreatif.

Pesan utamanya adalah tidak ada pilihan lain kecuali beradaptasi atau mati. Sebagai seorang kontributor media, bagian ini yang paling miris. Karena beradaptasi bukan hanya soal menunda kematian. Ini satu-satunya jalan untuk bisa kembali relevan.

Leave a Comment