Reset Identitas Diri IRT 40+ Menerima Fase Hidup Tanpa Merasa Gagal

Setelah memutuskan untuk resign hampir satu dekade lalu, ternyata hidup masih tetap berjalan.

Bedanya, saya bukan lagi si A yang punya jabatan YYX, bukan lagi bagian dari tim korporat di perusahaan.

Jujur, waktu itu butuh banyak sekali penyesuaian, apalagi di tahun-tahun pertama. Mulai dari menyesuaikan ritme kesibukan harian, lingkup interaksi sosial, kondisi finansial, sampai penerimaan identitas baru.

Bagian tentang penerimaan identitas baru ini buat saya jadi fase yang paling menantang selain urusan finansial dan interaksi sosial. Apalagi saat kondisi mood sedang tidak baik, tubuh lelah, pikiran terasa penuh, tiba-tiba terbersit satu pertanyaan yang mungkin terdengar konyol, “Saya ini sekarang siapa ya?”

Identitasku saat menjadi bagian koorporat

Siapa di sini tentunya bukan merujuk ke identitas dasar seperti siapa nama kita, siapa orang tua, pasangan, atau anak kita. Tapi peran apa yang sedang kita lakoni saat ini.

Buat sebagian orang, bisa jadi pekerjaan menjadi identitas yang melekat erat pada dirinya. Begitu pekerjaan itu lepas atau berganti, identitas dan existensinya pun mulai dipertanyakan ulang. Inilah yang sering disebut sebagai krisis identitas khususnya para ibu rumah tangga

Terlebih kalau itu terjadi di usia 30-40an. Penyesuaian akan perubahan itu juga butuh waktu dan proses yang tidak singkat.

Ketika Fase Hidup Terasa Seperti “Kemunduran”

Masih ada yang menganggap bahwa perempuan yang hanya memilih menjadi ibu rumah tangga termasuk pilihan yang sangat disayangkan. “Harusnya kan umur segini lagi top-nya berkarier. Sayang tuh pendidikan tinggi tapi berakhir di rumah aja!”

Apalagi kita hidup di budaya timur yang menganggap pekerjaan juga bentuk prestige, dan IRT bukanlah aktivitas yang dianggap cukup punya membawa kebanggaan.

Ibu Rumah Tangga hanya disibukkan dengan urusan domestik rumah tangga (Dapur, Sumur, Kasur), sedangkan ibu berkarir dia bisa punya hubungan sosial yang lebih luas. Seperti dengan rekan kerja, dengan klien, dengan vendor, dll.

Apalagi sebelumnya saya adalah bagian dari koorporat yang namanya cukup dikenal masyarakat luas.

Identitas IRT 40+ saat masih kerja kantoran

Di fase ini saya pun sempat mengalami masa ‘kemunduran’ itu. Apalagi pas scrolling sosmed dan melihat teman-teman yang berkarier sudah pada punya jabatan mentereng, trip ke mana-mana dalam rangka tugas pekerjaannya.

Bisa diperkirakan fasilitas yang didapatnya setara dengan kedudukannya tersebut. Rasanya hati bergemuruh, melihat ke belakang dan bertanya ke diri sendiri, “Kenapa sih waktu itu saya kok memutuskan resign ya?”

Padahal, waktu memutuskan resign tentunya saya sudah mempertimbangkan semua aspek. Tapi saat kondisi down, semua pertimbangan itu tiba-tiba luput dan terlupakan. Fokus kita hanya pada fase stuck yang dirasakan saat itu.

Fase Baru Bukanlah Kegagalan

“Tenang saya nggak lagi mundur, saya hanya sedang menyesuaikan diri,” Rasanya seperti kalimat afirmasi yang lama-lama terasa percuma dan omong kosong.

Butuh kematangan emosional kalau tidak ingin larut tenggelam di prasangka diri sendiri.

Kalau kata Mel Robbins penulis Mega Best Seller buku The Let Them, di kata pembuka dia menyebutkan Langkah 5 Detik yang cukup bertenaga membuat Mel yang sempat terpuruk oleh kondisi finansial yang buruk dan hutang yang menumpuk kemudian memutuskan tidak ingin lebih lama lagi terbelenggu oleh kondisi mental yang membelunggunya.

Rumus 5-4-3-2-1, jitu mendorong dirinya untuk bergerak keluar dari keterputrukan dan mulai mencari jalan keluar.

Akhirnya, Mel berhasil memantik lagi semangat dirinya yang sebelumnya memilih tenggelam dalam kegagalan menjadi Mel Robbins yang kita kenal sekarang.

Kalau Mel saja berhasil, tentu kita pun bisa. Temukan rumus jitu ala kita sendiri untuk mendorong kita keluar dari pikiran-pikiran yang menganggap kita ini bukan manusia berdaya karena sudah tidak lagi bekerja kantoran.

Kuncinya ada pada kemampuan kita menyadari dan mempertanyakan ke diri sendiri di mana kita sekarang, mau melakukan apa, dan mau mulai dari mana?

Reset Diri Dimulai dari Identitas, Bukan Skill

Karena PR-nya adalah identitas, maka itu dulu yang bereskan di awal. Jangan terburu-buru memikirkan skill apa ya yang mau saya pelajari, atau sertifikasi apa nih yang lagi legit saat ini?

IRT 40+ yang mulai menemukan identitas baru dari rumah

Itu boleh, tapi nanti setelah PR identitas ini beres dulu.

Jadi, kalau sudah siap memroses diri dengan identitas baru coba mulai pertanyakan beberapa hal ini ke diri sendiri:

  1. Siapa saya? (tanpa menyebutkan garis keturunan, nama pasangan, nama anak, label/status pekerjaan/jabatan, dll).
  2. Apa tujuan hidupku?
  3. Hal apa yang paling saya syukuri dalam hidupku saat ini?

Kita tidak perlu menjawabnya dengan panjang lebar, tapi hanya butuh kejujuran dan keberanian. Karena reset identitas bukan hanya tentang menjadi apa, tapi menjalani present moment dengan kesadaran dan penerimaan sepenuh hati.

Small, consistent action changes everything.” Satu kalimat yang kemudian mengubah hidup Mel Robbins dari yang begitu terpuruk menjadi perempuan yang podcast-nya ditonton jutaan. Dia tidak hanya berhasil membayar utangnya dan keluarga, tapi berhasil kembali membentuk identitas diri yang lebih solid.

Kalau kalian sedang di fase yang sama, yuk mulai meyakinkan diri kalau tidak ada yang instant dalam sebuah proses, yang membuat diri kita berharga atau tidak ya diri kita sendiri bukan penilaian orang ke kita.

Selamat memulai dan menjalani prosesnya. Ini bukan perjalanan yang sia-sia. Karena menemukan kembali identitas diri sejati adalah ketika kita betul-betul bisa mengenali diri kita sendiri.

15 thoughts on “Reset Identitas Diri IRT 40+ Menerima Fase Hidup Tanpa Merasa Gagal”

  1. Related nih,
    saya sering ngerasain “gagal” kalo keserigan skrol sosmed.
    emang sosmed ini kadang racun kadang madu ya, mbak, hihi
    Tapi kalo dipikir2 udah sampe di titik ini aja udah merasa super dan ngga nyangka mampu kok terlewati “badai2” itu, alhamdulillah yaa
    Emang harus ngga bole ingkar dari nikmat tuhan

    Reply
    • Sosmed tuh racun-madu, setuju banget mba. Karena mau nggak mau kita juga butuh bersosmed, tapi mungkin mesti pinter nakar waktu dan apa yang dilihat kali ya bisa tetep waras kitanya mbaaaa…

      Reply
  2. Gue banget nih

    Saya ngalamin situasi yang berat ketika memutuskan mengundurkan diri, waktu itu anak udah 2 , ada ayah mertua yang harus diurus dan suami gak mau tau kerjaan istrinya

    Tambah parah sewaktu ART tiba-tiba pulang, lha kalo saya tetap kerja, anak saya siapa yang ngurus
    Tapi ya itu dia, perjuangannya berat berat. Rasa percaya diri langsung turun ke level terendah

    Reply
    • Ambu, makasih ya. Liat Ambu yang aktif nulis saya jadi ke BOOST semangatnya. Semoga temen-temen blogger tetep semangat dan bisa nularin semangatnya buat temen-temen lain yang mungkin lagi di masa terendahnya…

      Reply
  3. Mbak, aku relate banget sama isi artikelnya 😭tapi aku udah lolita loh!
    Naaah duluuuu aku ngerasa jadi IRT usia 40+ tuh rasanya kayak lagi berdiri di antara “aku yang dulu” dan “aku yang sekarang.” Ada fase bengong sambil mikir, “kok hidup berubah banget ya?” padahal sebenarnya kita nggak gagal, cuma lagi beradaptasi dengan versi diri yang baru.

    Aku suka banget bagian tentang menerima fase hidup tanpa harus terus membandingkan diri dengan standar orang lain. Karena jujur aja, healing terbesar itu kadang bukan jadi “lebih hebat,” tapi bisa berdamai sama diri sendiri!

    Dan yes, identitas perempuan itu nggak berhenti setelah menikah atau punya anak. Kita tetap manusia utuh yang masih boleh punya mimpi, ruang tumbuh, dan hal-hal yang bikin hati hidup lagi ..

    Reply
  4. Ini yang sering dialami teman-teman saya yang mulai berkeluarga dan tidak bekerja. Mereka merasa kehilangan identitas diri. Ternyata emang fase nya cukup berat saat transisi dari biasa berkarir menjadi seorang IRT.

    Artikel ini sangat dibutuhkan oleh para perempuan yang memutuskan resign serta bingung dan kehilangan identitas diri. Reset identitas, salah satu cara ampuh yang powerful sekali.

    Terima kasih sudah berbagi cerita dari buku The Let Them. Semangat terus ya Mbak, semoga dilancarkan setiap prosesnya.

    Reply
    • Iya mba Lala, jadi IRT yang nggak lagi ngantor itu butuh penyesuaian lahir batin. Sekarang sejak kembali rutin nulis dan ketemu temen2 blogger yang hebat-hebat jadi BOOST up semangat lagi mbaaa. Makasih ya…

      Reply
  5. Saya merasakan itu Mbak. Saya berhenti kerja sekitar enam aja tujuh tahun lalu, lupa lagi. Begituu awalnya merasa kok gini ya
    Tapi mungkin tuntutan hidup dan mulai merasakan kematangan emosi, akhirnya bisa menerima semua itu

    Kalau Mel saja berhasil, tentu kita pun bisa. Benar itu…
    Menemukan rumus jitu ala kita sendiri untuk mendorong diri sendiri keluar dari pikiran-pikiran yang menganggap kita ini bukan manusia berdaya karena sudah tidak lagi bekerja kantoran adalah jalan terbaik supaya kita bisa menerima, menyadari dan mensyukurinya

    Reply
  6. Been here. Memang gak mudah ya Ga. Tapi bukan berarti kita gak bisa “menaklukkan” sekian banyak perubahan yang mampir ke diri kita. Plus minus pasti mampir ke pikiran dan telinga. Bahkan banyak rekan yang menyayangkan kenyataan bahwa kita “harus melepas” sebuah pencapaian karena “merumahkan diri”. Fase perjuangan mengalahkan diri sendiri yang sama sekali tidaklah mudah.

    Tapi alhamdulillah ya dengan tetap berpikir positif dan yakin bahwa kita tetap punya value meski tak lagi menjadi budak korporat, times then flying and changing. Gak nyangka ya Ga. Akhirnya kita bisa melewatinya dan be better in our future next steps.

    Saling menyemangati kita ya Ga. We can do it. We must be better.

    Reply
    • Bener, Mba Annie…. Kumpul dengan temen-temen blogger seperti ini bisa bikin semangat ON lagi. Salah satunya liat mba Annie yang selalu produktif nulis. Meskipun di baliknya pasti ada masa-masa down dan lelah, tapi punya semangat untuk bangkit dan lanjut lagi itu yang diri kita mesti apresiasi ya mba… Thanks udah kasih kata-kata menenangkan. Insya Allah semangat Mba Annie bisa nular ke aku ya mba…

      Reply
  7. Meski daku belum se-usia Kak Mega, tapi jadi pembelajaran buat daku, tentang hidup yang memang sesuatu ya Kak perjalanannya. Dinikmati saja dan jalani apa yang sudah dipilih. Lakukan dengan bahagia terhadap rutinitas baru, sehingga tetap produktif.

    Kalau di medsos daku kebanyakan malah temen blogger, sesama pelatihan, temen sekolah, dan siswa daku hehe. Malah temen yang dulu kerja bareng jadi budak korporat merekanya ga main medsos.

    Reply
  8. Baca “menemukan kembali identitas diri sejati adalah ketika kita betul-betul bisa mengenali diri sendiri” kala mendekati ultah ke 40 dan sekarang jadi IRT, rasanya sungguh memotivasi lho mbak.
    Semangat terus ya

    Reply
  9. Saya sedang di masa ini mbak.
    sering mempertanyakan apa tujuan hidup.
    dan sampai sekarang masih belum bisa mantap menjawab, masih jawaban formatif.
    Mungkin butuh perenungan lebih mendalam, dan melepas label-label yang melekat pada diri saya

    Reply

Leave a Comment

Index