Pekan ini anak-anak akan terima raport nih, Bun. Itu artinya, liburan akan segera tiba. Libur kenaikan kelas jadi waktu yang sangat dinantikan anak-anak. Tidak hanya anak TK atau SD, anak SMA juga sama euforianya. Jeda panjang hampir empat pekan ini membuat mereka jeda sebentar dari rutinitas bangun pagi, bebas sementara dari tugas-tugas harian, dan les tambahan yang bejibun.
Masalahnya, di balik anak yang hepi dengan liburannya ada kita para orang tua yang berpikir keras untuk mengatur dan mengalokasikan budget liburan. Apalagi di kondisi ekonomi seperti sekarang ini kan ya. Nilai rupiah anjlok, BBM naik, cash flow terbatas jadi nggak boleh lengah.
Di kondisi ini, mengatur pos-pos anggaran sangatlah krusial. Apalagi sekarang saya sudah bukan pekerja kantoran dengan pemasukan rutin bulanan. Jadi, pengaturannya akan lebih cermat supaya pengeluaran liburan dan persiapan anggaran tahun ajaran baru bisa aman tanpa nambah beban.

Ini beberapa catatan penting yang saya jadikan acuan beberapa tahun belakangan sejak hampir satu dekade jadi IRT Eks-Corporate.
Liburan adalah Investasi Waktu & Keterampilan
Liburan tidak diukur dari seberapa mahal atau mewah tempat yang dikunjungi, melainkan dari apa yang bisa dipelajari dan dirasakan anak.
Meskipun prioritas utama adalah anggaran pendidikan, liburan tetap memiliki nilai penting untuk tumbuh kembang mereka. Dana liburan bisa disiapkan secara terpisah, misalnya dari penghasilan tambahan atau uang jasa kerja lepas. Kegiatannya juga kalau bisa jangan terlalu bersifat akademik, diutamakan hal-hal yang bisa membuat mereka merasa relax, refresh dan recharge bukan menambah stress.
Contohnya kedua anak saya. Mereka sangat senang jika dalam jadwal liburannya ada kegiatan melukis. Mereka biasanya minta untuk didaftarkan di kelas melukis di galeri seni milik miss Oka Armini di Jimbaran bernama Arti Seni Jimbaran (@artisenijimbaran). Rumah miss Oka juga kebetulan tidak jauh dari rumah kami.

Jadi, anak-anak saya antar pagi hari dan baru minta dijemput siang atau sore harinya. Untuk makan siang biasanya saya bawakan bekal dari rumah. Selain pengajarnya ramah dan galerinya nyaman, harganya pun sangat terjangkau. Waktu itu saya membayar Rp 300.000,- per anak untuk empat kali pertemuan. Dengan biaya tersebut, mereka tidak perlu repot membawa media dan peralatan melukisnya. Semua sudah disediakan di galeri. Kecuali bagi anak-anak yang ingin melukis di media kanvas. Mereka bisa membawa kanvas sesuai ukuran yang diinginkan.
Selain asyik melukis dan berkreativitas, kegiatan ini juga jadi cara mereka melepaskan penat satu semester kemarin dengan senang hati.
Menyusun Anggaran Liburan yang Realistis
Bicara soal anggaran, berarti kita sedang membahas sesuatu yang tidak dilakukan secara mendadak. Semua harus direncanakan paling tidak 2-3 bulan sebelumnya. Caranya bisa dengan menyisihkan sebagian dari gaji suami atau dari uang tambahan yang kita hasilkan setiap bulan.
Seperti yang disampaikan oleh Prita Ghozie, seorang Financial Planner menyebutkan, alokasi pendapatan bisa dibagi ke dalam tiga bagian utama; Living (Kebutuhan) – Saving (Tabungan) – Playing (Hibuan/Liburan) dengan porsi sekitar 50% – 30% – 20%. Pembagian ini bisa menjadi panduan awal agar keuangan keluarga lebih teratur.
Ini berarti, biaya liburan hanya boleh diambil dari alokasi 20% yang disisihkan setiap bulannya.
Tapi namanya juga rencana, ada kalanya berjalan sesuai harapan, ada kalanya hanya terpenuhi sebagian, atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali. Jika hal ini terjadi, maka rencana liburan harus disesuaikan sedemikian rupa agar tetap realistis dan sesuai dengan dana yang tersedia.
Untuk memudahkan perencanaan, saya biasanya membagi pengeluaran sebagai berikut:

Format ini walaupun sederhana tapi bisa membantu kita tetap disiplin, sehingga liburan tetap menyenangkan sekaligus tidak membebani kondisi keuangan di kemudian hari.
Libatkan Anak dalam Perencanaan Anggaran
Langkah ini lebih cocok diterapkan saat anak sudah menginjak usia remaja. Saya sendiri baru mulai mengajak anak berbicara soal keuangan ketika dia berusia 15 tahun. Sekarang dia sudah kelas 10, jadi sudah saatnya dia tahu bagaimana keuangan keluarga diatur termasuk bagaimana anggaran liburan disiapkan.
Selain itu, ini juga menjadi pelajaran literasi keuangan yang berguna untuk masa depannya. Obrolannya bisa dilakukan dengan santai, misalnya sambil berkendara atau makan bersama. Seperti hari ini, saya ajak dia berdiskusi: untuk liburan nanti, dia ingin beraktivitas apa saja dan ingin pergi ke mana saja.
Tujuannya bukan cuma supaya dia tahu mau berbuat apa atau ingin pergi ke mana saja, tapi juga agar dia paham bahwa semua rencana harus disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Misalnya anggaran liburan untuk dia dan adik totalnya Rp 1.500.000. Nah, untuk ikut kelas melukis saja sudah terpakai Rp 600.000, jadi sisanya tinggal Rp 900.000.
Dari sisa uang itu, saya minta dia coba mengatur sendiri mau dipakai untuk apa saja, mau dibagi seperti apa, dan mana yang dianggap paling penting. Supaya lebih jelas, saya tunjukkan contoh susunannya seperti ini:

Dengan cara ini, dia jadi terbiasa menghitung, memprioritaskan kebutuhan, memahami kondisi orang tuanya dan paham bahwa rencana harus disesuaikan dengan kemampuan dana.
Manfaatkan Opsi Liburan Hemat & Tetap Berkesan
Liburan yang menyenangkan tidak harus mahal. Banyak pilihan kegiatan yang ramah di kantong, bahkan ada yang gratis, tapi tetap memberi pengalaman seru dan berharga. Berikut beberapa contohnya beserta perkiraan biayanya:
Tempat umum & alam (Gratis – Rp20.000/orang)
- Pantai umum, taman kota, atau lapangan terbuka
- Perpustakaan daerah atau taman baca
- Jalan santai atau piknik di sekitar lingkungan rumah
Tempat edukasi & seni (Rp10.000 – Rp50.000/orang)
- Museum, galeri seni, atau rumah budaya
- Taman pendidikan atau kebun raya
- Pasar seni tradisional
Kegiatan seru & kreatif (Rp25.000 – Rp100.000/orang)
- Kelas singkat melukis, kerajinan, atau memasak
- Berenang di kolam umum atau air terjun terdekat
- Piknik sederhana dengan bekal dari rumah
Kegiatan di rumah (Hampir tanpa biaya)
- Menonton film keluarga, berkebun bersama, atau membuat kerajinan tangan
- Berkemah kecil-kecilan di halaman rumah

Intinya, liburan yang berkesan tidak diukur dari seberapa banyak uang yang dihabiskan, melainkan dari kebersamaan dan hal-hal baru yang bisa dinikmati bersama keluarga.
Kesalahan yang Harus Dihindari
Liburan kan hanya bersifat sementara ya, Bun. Jadi jangan sampai pengeluarannya justru menjadi beban panjang.
Yuk coba hindari hal-hal berikut supaya keuangan aman, liburan jalan:
Mengambil pinjaman konsumtif
Jangan berutang hanya demi bisa liburan mengikuti gaya atau standar orang lain. Kenyamanan sesaat saat berlibur tidak sebanding dengan beban cicilan yang harus dibayar berbulan-bulan setelahnya.
Menguras tabungan kebutuhan pokok
Please, jangan menyentuh dana darurat, biaya sekolah, atau uang belanja bulanan demi membiayai liburan. Pastikan dana liburan benar-benar berasal dari alokasi yang sudah disiapkan terpisah.
Terlalu memaksakan kemewahan
Tidak perlu meniru tujuan liburan yang mahal hanya agar terlihat sama dengan orang lain. Hal ini justru sering membuat kita tidak leluasa menikmati momen karena terus memikirkan biaya yang membengkak.
Tidak menyisakan dana cadangan
Seringkali biaya tak terduga muncul di tengah perjalanan. Tanpa persiapan, kita bisa terpaksa mengeluarkan uang dari pos anggaran lain yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk itu.
Lebih baik ciptakan versi liburan kita sendiri yang sederhana, sesuai kemampuan, dan tetap terasa berkesan sehingga kita bisa bersenang-senang dengan tenang tanpa meninggalkan beban finansial di kemudian hari.
Insight Penutup
Seperti yang diungkapkan oleh Aliyah Natasya, Perencana Keuangan sekaligus Pendiri DNA Finance Indonesia, “Liburan itu keinginan, bukan kebutuhan. Kalau mau tetap berlibur, pastikan dananya dikumpulkan khusus, bukan diambil dari uang daftar ulang atau seragam anak.”

Sebagai orang tua, perlu kita mengakui kalau kita belum bisa memberi segalanya yang mereka minta saat itu. Tapi dengan perencanaan, kita bisa memberi yang paling berharga, yaitu waktu dan pengalaman yang membentuk mereka.
Mereka akan lebih menghargai momen liburan bukan semata-mata dari seberapa populer tempat yang dikunjungi, tapi seberapa besar kesan yang mereka bisa rasakan.
Intinya, liburan yang menyenangkan dan berkesan tidak harus mengeluarkan biaya besar. Kuncinya ada pada strategi keuangan, persiapan yang matang, dan pemahaman akan apa yang benar-benar dibutuhkan dan dinikmati oleh anak.
