Jurnal Mega

Blog Tentang Keseharian seorang jurnalis

Bersama IndiHome, Internet Jadi Kawan Bukan Lawan

Bersama IndiHome, Internet Jadi Kawan Bukan Lawan
Berkawan Dengan Internet
Berkawan Dengan Internet Bersama IndiHome

jurnalmega.com, Apa kalian pernah ada di masa telepon koin?

Saat di mana harus rela mengantri, membawa beberapa keping uang logam demi menghubungi seseorang, atau berada di bilik warnet saat ingin berselancar di dunia maya. Sekadar membuka surel atau mengunduh lagu favorit.

Telepon Koin
Telepon Koin tahun 1900an

Bisa ditebak berarti itu termasuk bauran generasi X dan Y. Kondisi yang bertolak belakang dengan mereka si Generasi Z atau yang lumrah disebut Generasi Net (Gen Z). Sebutan mereka merupakan refleksi kondisi yang terlahir di dunia berarus informasi yang serba cepat.

Generasi Z dan Dunia Internetnya

Sungguh jauh berbeda dari generasi-generasi pendahulunya, generasi net mengalami hal sebalikanya. Mereka begitu dimanjakan dengan fasilitas internet tanpa batas. Gen Z bisa berselancar di dunia maya sekemauannya bahkan tanpa batas waktu.

Bagaimana tidak, internet merupakan ciri utama yang melekati anak-anak yang lahir di kisaran tahun 1995 – sekarang. Mereka lahir di kondisi komunikasi informasi yang praktis dan taktis. Hal tersebut pun diamini sebagai manfaat baik dari hadirnya internet.

Dikutip dari laman blog IndiHome tentang pemahaman internet menurut para ahli di bidang informasi teknologi, bahwa internet merupakan suatu bentuk interkoneksi antara jaringan komputer yang dapat memberikan pelayanan berupa informasi dalam bentuk sajian lengkap. Internet pun dianggap memberikan berbagai manfaat dalam urusan politik, bisnis, hiburan, dan juga pendidikan.

Generasi Internet (Gen Z) ini pun kini menikmati pendidikan berbasis internet. Karenanya mereka jadi memiliki karakteristik khusus seperti melek internet, mengenal gadget sejak dini, berambisi, punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi, haus pengakuan dari lingkungan dan yang paling khas diantara semuaya yaitu suka segala sesuatu yang instan, cepat, praktis, termasuk proses penyelesaian masalah.

Ini terlihat dari cara mereka mengerjakan tugas sekolah yang sudah lazim menggunakan laptop sehingga tidak perlu lagi melalu proses tulis-menulis yang kita pun akui sangat menyita waktu dan tenaga.

Googling pun jadi solusi cepat ketika mereka memerlukan data untuk menggenapi tugas-tugasnya. Mereka pun tak perlu bersusah-payah membaca buku, mengutak-atik berbagai sumber, bertanya sekitar.

Baca Juga  7 Persamaan Yoga dan Menulis

Mengumpulkan tugas pun tak lagi menggunakan buku tulis atau kertas, melainkan melalui surel atau tautan yang dibagikan para guru. Manfaat internet tersebut pun yang kita rasakan dapat menyingkat waktu kerja sehingga banyak yang dapat kita lakukan dalam kurun waktu tertentu. Meski kadang ada hal yang harus kita lalui dengan proses tak instan.

Di sinilah peran orangtua dengan anak Gen Z dalam mendampingi dan memberi bentuk-bentuk pemahaman bahwa dalam sebuah proses yang dilewati ada pendewasaan, latihan ketahanan, menyiapkan mental untuk menghadapi kekecewaan, pujian, juga komitmen menyelesaikan yang sudah dimulai.

Dualisme di Dunia Internet; Kawan atau Lawan?

Diakui atau tidak, dualisme itu selalu ada. Seperti halnya internet, di satu sisi dia begitu bermanfaat namun di sisi lain dia juga bisa membawa petaka jika kita tak arif dan selektif.

Secara umum kita pasti sudah tahu apa-apa yang tergolong efek baik dan manfaat internet. Namun di sini saya hendak mengajak untuk tak hanya paham di permukaan tapi menjadikan sebagai bentuk mawas dan sadar diri akan dualisme itu.

Dampak Negatif Internet dan Gadget Pada Fisik

Secara kasat mata, mudah bagi kita untuk melihat dampak negative internet berlebih pada fisik anak. Masih dari buku Digital ParenThink milik Mona Ratuliu disebutkan hasil wawancaranya dengan Dr. Kianti Raisa Darusman Sp.M., seorang pediatric ophthalmologist atau dokter mata anak.

Disebutkan bahwa paparan blue light dari layar gadget atau perangkat media digital lainnya secara berlebih pada mata anak bisa berdampak seperti mata kering atau berpasir, lelah yang berujung sakit kepala.

Kondisi yang dapat disiasati dengan membuat jadwal 20/20/20. Jadi, setiap 20 menit kita menggunakan mata untuk aktivitas dekat, kita istirahatkan mata dengan melihat sejauh 20 meter selama 20 detik.

Cara ini biasanya digunakan bagi mereka yang berada di depan layar gadget secara intens, khusus bagi anak-anak bisa disesuaikan dengan menerapkan screen time sesuai usia.

Berikutnya ada Text Neck, apa itu?
Ilustrasi bersumber dari Buku DigitalParenThink

Text Neck adalah tekanan berlebihan di sekitar leher karena terlalu lama menunduk atau menekuk leher akibat penggunaan gadget. Kondisi ini sering digejalai seringnya merasa nyeri di area leher, mati rasa, dan kesemutan pada ujung jari kaki dan tangan, sampai sakit kepala hebat.

Baca Juga  Puasa dan Esensi Memaafkan

Gejala lain seperti rasa kaku di bagian bahu, juga rasa sakit di leher, tangan, jari-jari, pergelangan tangan, dan siku. Efek berkepanjangan dari Text Neck dapat sebabkan erubahan postur tubuh. Hmmm, kita harus waspadai ya.

Dampak Negatif Internet dan Gadget Pada Mental

Paparan Pornografi
Ilustrasi bersumber dari Buku Digital ParenThink

Paparan pornografi dan cyberbullying pada anak jadi dua hal yang patut jadi perhatian bagi kita para orangtua. Konten pornografi menimbulkan adiksi pada diri anak-anak. Ketika mereka sudah mulai kehilangan kemampuan menahan diri, murung, sering menyendiri di depan gadget, dan mengunci diri sampai menghapus browser history di mesin pencari, sulit berkonsentrasi dan menjadi pendiam.

Maka perlu kita telisik dan pastikan kebenarannya seberapa jauh mereka sudah terpapar konten tak laik ditonton itu.

Cyberbullying yang terjadi pada anak bisa saja diawali pelaku sebagai bentuk candaan pada fisik. Namun, sebagai orangtua kita tak boleh kecolongan terlebih jika anak terganggu dengan ucapan dan komentar para pelaku. Jika mereka terkondisikan sebagai korban, maka kita perlu perhatikan kondisi mentalnya.

Pantauan terhadap postingan dan komentar di lama media sosial. Ajak mereka untuk lebih mawas diri dalam hal itu. Menanamkan pada diri mereka bahwa mereka istimewa, unik, keren. Tujuannya agar mental anak tetap kuat dalam menghadapi ejekan yang didapatinya dari dunia maya.

Sampaikan juga pada anak kalau di dunia ini ada saja orang yang tidak suka pada kita dan berusaha sekuat tenaga untuk ‘menjatuhkan’ kita. Yakini mereka untuk kuat dan lebih berhati-hati sehingga tak terpengaruh oleh bully-an orang lain.

Dampak Positif Berinternet

Pada bagian ini, kita mengakrabi internet bagaikan seorang kawan. Bagaimana tidak keberadaan internet memudahkan hidup kita. Seperti mudahnya mencari informasi, terhubung dengan dunia luar, sampai terbukanya kesempatan belajar.

Internet juga membantu kita saat hendak mencari referensi yang dibutuhkan seperti bahan bacaan, tontonan, sampai link komunitas yang kita perlukan untuk mengembangkan diri.

Contoh paling nyata dan baru saja kita lewati. Selama dua tahun, sepanjang merebaknya pandemi COVID-19, saat tatap muka terlahangi regulasi kesehatan bisa disebut bahwa kegiatan pendidikan, interaksi sosial, kegiatan ekonomi bisa berjalan karena koneksi internet.

Baca Juga  Sebuah Cerita dari Balik Layar Peliputan Live Hari Raya Galungan

“Bahwa orangtua bisa melihat fungsi gadget dan internet di rumah. Ketika dimanfaatkan sebagai alat untuk mencari informasi penting, alat bantu mengerjakan tugas sekolah, menonton film bersama keluarga, atau bermain game edukasi dengan batas tertentu maka bisa dikatakan gadget dan internet membawa manfaat. Tapi ketika beralih fungsi, menimbulkan keresahan, berdampak pada kesehatan fisik dan mental, maka saatnya untuk mempertimbangkan kembali apakah anak boleh bermain gadget dan internet atau tidak,” kata pakar telematika, Abah Abimanyu Wachjoehidajat.

Manfaat Internet; Generasi Z dan Rasa Ingin Tahunya

Generasi Z
Generasi Z

Internet dapat kita jadikan jalan untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Berlimpahnya informasi dapat menjadi cara agar segera memeberi jawaban atas segala tanya yang muncul dan mereka utarakan.

“Jangan tinggalkan anak-anak terlalu lama dengan rasa menasarannya terhadap topik tertentu. Jangan biarkan mereka mencari jawabannya sendiri. Segera diskusikan bersama,” kata Mona Ratuliu dalam bukunya DigitalParenThink.

Hal tersebut penting untuk disadari para orangtua agar tetap menjadi andalan anak dalam proses membimbing terutama di saat mereka tak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

IndiHome, Internetnya Indonesia

Indonesia Digital Home (IndiHome), merupakan salah satu produk layanan dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berupa paket layanan komunikasi dan data.

Layanan digital yang resmi diluncurkan tahun 2015 ini menyediakan Internet Rumah, Telepon Rumah dan TV Interaktif (IndiHome TV) dengan beragam pilihan paket. Saat ini, jaringan IndiHome sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dan terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan internet yang lebih baik bagi masyarakat.

Ragam fasilitas ditawarkan. Dengan tagline #WujudkanDariRumah Telkom Indonesia menghadirkan IndiHome untuk menemani keluarga Indonesia, menjadikan suasana lebih harmonis, bahagia, dan tentunya kreatif.

Puluhan Tahun Bersama IndiHome

Berpuluh tahun menggunakan IndiHome diakui seorang sahabat sangat membantu kegiatan usaha keluarga mereka. Manfaat internet melesatkan pemasaran produk lokal yang mereka hasilkan, termasuk saat pandemi.

Diskusi di ruang zoom setiap minggu pun tetap lancar berkat adanya sambungan internet yang nyaris tanpa gangguan berarti.

Hal ini kemudian bisa kita maknai jika internet kita pergunakan dengan bijak, tepat sasaran, dan manajemen waktu yang baik, maka akan mendatangkan manfaat termasuk mengakrabi internet layaknya seorang kawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

IndiHome Berinternet di Ranah Kesenian
Previous Post IndiHome Berinternet di Ranah Kesenian
Film ‘Inang’ Besutan Sineas Negeri Melaju ke Bucheon International Fantastic Film Festival
Next Post Film ‘Inang’ Besutan Sineas Negeri Melaju ke Bucheon International Fantastic Film Festival