Jurnal Mega

Blog Tentang Keseharian seorang jurnalis

IndiHome Berinternet di Ranah Kesenian

IndiHome Berinternet di Ranah Kesenian
IndiHome Berinternet di Ranah Kesenian
IndiHome Berinternet di Ranah Kesenian

jurnalmega.com, Kini internet tak semata-mata milik Generasi Net. Berbagai bidang dari pendidikan hingga seni, kalangan tua-muda mulai terambahi perlahan, tapi pasti.

Mereka yang dijuluki gaptek pun harus rela melepas idealisme diri untuk kemudian berbaur dengan kemajuan arus informasi yang kian cepat. Jika tidak, maka bersiaplah tertinggal dan tentu hal itu akan berdampak pada profesi yang digeluti.

Lewat beberapa obrolan dengan para seniman, saya mendapati kenyataan bahwa mereka pun harus melek teknologi, mengikuti informasi yang serba cepat, membuat dan meng-update status di media sosial. Tujuannya tak lain agar publik tahu apa kiranya yang sedang mereka giatkan. Apa kiranya karya terbaru yang sedang digarap dan akan dihadirkan ke khalayak.

Internet di Dunia Seni Rupa

Internet dan Dunia Seni Rupa
Bincang dengan Ni Nyoman Sani (Perupa)

Segala tentang cerita di balik layar lahirnya sebuah karya akan selalu menyentuh. Seperti kehidupan seorang Ni Nyoman Sani, Perupa yang berasal dari Sanur, Bali. Unggahan momen berkeseniannya seperti saat berada di studio lukisnya, saat pameran karya, ketika berkumpul dan berbagi dengan para seniman, sekadar menikmati kopi pagi dengan sahabat jadi hal yang memantik keingintahuan publik tentangnya dan karya yang sedang dikerjakannya.

Saya pribadi pun tahu tentang Bu Sani dari laman media sosial instagram miliknya @shine_bright_sani. Berawal dari kebutuhan mencari narasumber untuk tulisan tentang seniman perempuan membawa pada pertemuan dan perbincangan mendalam.
Internet, gadget dan media sosial kini menjadi alat mereka untuk mengenalkan hingga memasarkan karya yang dibuat.

“Secara pribadi, internet sangat membantu dalam hal pengamatan dan penelusuran sumber yang akan saya jadikan bahan dalam berkarya. Keterbatasan ruang gerak membuat hadirnya internet jadi sangat berarti,” kata Ni Nyoman Sani.

Baca Juga  Youtuber Berbahasa Daerah Juga Mampu Meraih Kesuksesan Lho

Dia pun teringat saat berada di masa surat-menyurat. Komunikasi terasa lebih lambat, belum lagi saat kolega yang dikirimi surat ternyata pindah alamat tanpa mengabari. “Kemungkinan lost contact dapat terjadi,” sambungnya.

Berbeda dengan zaman ini di mana kita bisa menelusuri keberadaan seseorang melalui laman media sosial yang tersedia seperti Facebook, Instagram, LinkedIn. Tak hanya kolega, pertemanan yang sudah lama berjarak pun dapat terjalin lagi. Begitulah manfaat internet memudahkan hidup kita saat ini.

Saat diajak membahas tentang potensi bertemu klien, Sani pun meyakini bahwa pertemuan luring atau pun daring sama-sama diperlukan. Ketika mengadakan pameran secara langsung (luring), dia dapat bercengkrama dengan para peminta karyanya. Sedangkan pameran secara daring dan media sosial dapat menjangkau cakupan lebih luas di dalam maupun luar negeri.

Darinya saya peroleh satu kesimpulan bahwa mereka yang berkesenian jangan ragu untuk bermedia sosial, tak hanya tentang mengenalkan karya, namun pentingnya berkehidupan sosial dengan para pecinta seni.

Internet di Geliat Seni Tari

Internet dan Seni Tari
Konser Amal Ngadeg Munggah

Anet Charmeis, perempuan berdomisili di Jimbaran, Bali ini belum lama menyelenggarakan konser tari amal bertajuk ‘Ngadeg Munggah’ di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma, Gianyar. Senada dengan perkenalan dengan Nyoman Sani, saya pun tahu Anet dari laman instagramnya @anet_charmeis.

Begitu tertarik ketika melihat unggahannya tentang charity concert (konser amal) dalam gerak seni tari. Ditambah dengan pesan yang digaungkannya dalam konser amal itu yaitu tentang menyemangati anak muda untuk Ngadeg Munggah yang berarti tetap berdiri tegak.

Melalui internet, media sosial dan gerak seni tari, Anet dan kawan-kawannya menyebarkan spirit kepada anak mudah untuk bangkit, berkarya, meski pandemi belum sepenuhnya pergi.

Baca Juga  9 Alasan Tulisan Tidak Pernah Tamat

Tanpa berpikir panjang saya pun menghubunginya melalui pesan langsung (direct message) yang kemudian berlanjut ke sesi wawancara. Anet dengan terbuka menanggapi keinginan saya untuk menulis tentang kegiatan tarinya termasuk menanyai peran internet dalam kesehariannya.

Anet merupakan seorang guru tari di sebuah studio di kawasan Kuta, Bali. Seni tari tradisional sudah menjadi bagian hidupnya sejak berusia 4 tahun.

“Bagi saya, manfaat internet dan media sosial bisa membantu kita agar makin berkembang. Bisa belajar, upgrade skill, mencari informasi apapun melalui internet,” ujarnya.

IndiHome dari Telkom Indonesia sudah menjadi bagian dirinya dan keluarga. Dia pun mengamini bahwa seorang seniman butuh untuk ‘menjual diri’ berupa hasil karya. Media sosial adalah tempatnya mengunggah kegiatan menari dan mengajarnya. Bahkan setelahnya bisa saja ada yang menghubungi dan menawari pekerjaan.

“Cerdas bermedia sosial amat penting bagi kami para seniman.”

Baginya kehidupan selalu punya dampak baik dan buruk. Semua kembali pada kita hendak membawanya ke arah mana.

Pemakaian internet dan medsos tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan tak berlebihan. Karena segala yang berlebihan itu tak kan baik dampaknya.

IndiHome, Internetnya Indonesia

Indonesia Digital Home (IndiHome), merupakan salah satu produk layanan dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berupa paket layanan komunikasi dan data.

Layanan digital yang resmi diluncurkan tahun 2015 ini menyediakan Internet Rumah, Telepon Rumah dan TV Interaktif (IndiHome TV) dengan beragam pilihan paket. Saat ini, jaringannya sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dan terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan internet yang lebih baik bagi masyarakat.

Ragam fasilitas ditawarkan. Dengan tagline #WujudkanDariRumah Telkom Indonesia menghadirkan IndiHome untuk menemani keluarga Indonesia, menjadikan suasana lebih harmonis, bahagia, dan tentunya kreatif.

Baca Juga  Yogini Pembawa Spirit Kartini

Internet Dalam Torehan Cerpen

Internet dan Seni Tulis Menulis
Riset Penulisan Cerpen Kama, Ni Pollok & Le Mayeur

Teringat proses kreatif ketika saya ingin membuat sebuah tulisan berupa cerpen berlatar budaya. Saat itu saya terpikir untuk mengangkat cerita asli untuk kemudian difiksikan.

Setelah menimbang-nimbang dan mengamati beragam informasi di internet, saya mendapati sebuah informasi tentang Museum Le Mayeur. Sebuah museum yang berada di Sanur Bali yang kental nuansa budaya dan percintaan tahun 1930an.

Berbekal informasi dari beragam sumber, cerpen yang saya beri judul Kama, Ni Pollok pun rampung dalam kurun waktu 30 hari. Proses kreatif itu meyakini saya bahwa internet dan media sosial sangat bermanfaat membuka cakrawala, menghadirkan ragam informasi yang sebeumnya tidak kita ketahui, yang kemudian diramu dengan cara yang tepat akan dapat melahirkan sebuah karya yang otentik khas diri kita.

Meski tak dapat dipungkiri, dualisme dalam hidup itu selalu ada. Ada manfaat, pasti ada yang mesti diwaspadai. Cermat tepat berinternet akan menjadikannya kawan bukan sebaliknya. Terlebih saat ingin menjadikan informasi tersebut sebagai referensi karya. Maka kita perlu berhati-hati dan selektif melihat sumber tulisan.

Dari ketiga contoh nyata itu dapat ditarik simpulan kalau internet mutlak diperlukan dalam proses berkesenian yang utuh. Mulai dari mencari ide, riset, proses membuat, sampai memasarkan dan mengenalkannya ke publik.

Bersama IndiHome Internetnya Indonesia kita bisa mewujudkan ragam cita dan mimpi di masa kini dan nanti. Menjadikan internet sebagai jembatan dalam berkarya dan berkesenian.

One thought on “IndiHome Berinternet di Ranah Kesenian

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Top Gun Maverick; Tentang Arti Persahabatan, Melepaskan, dan Sebuah Keyakinan
Previous Post Top Gun Maverick; Tentang Arti Persahabatan, Melepaskan, dan Sebuah Keyakinan
Bersama IndiHome, Internet Jadi Kawan Bukan Lawan
Next Post Bersama IndiHome, Internet Jadi Kawan Bukan Lawan