Jurnal Mega

Blog Tentang Keseharian seorang jurnalis

Perjalanan Menulis Buku “Dari High Heels ke Sendal Jepit”

Perjalanan Menulis Buku “Dari High Heels ke Sendal Jepit”

jurnalmega.com –  Hari ini 8 September ditetapkan UNESCO sebagai Hari Literasi Internasional atau Hari Aksara Internasional.

Tujuannya agar kita sebagai masyarakat sadar akan pentingnya huruf bagi peradaban manusia.

Bicara tentang aksara dan literasi tentu nggak jauh dari tulis-menulis ya. Di momen ini saya ingin sekadar berbagi tentang proses perjalanan menulis buku solo.

Cover buku Dari High Heels ke Sendal Jepit

Setelah menimbang, ternyata proses ini patut saya apresiasi, supaya kelak bisa dijadikan bahan evaluasi dan penyemangat diri.

Apalagi setiap penulis pastilah sepakat bahwa menulis adalah sebuah proses panjang. Lahirnya buku bukanlah titik akhir, tapi justru awal dari perjalanan baru. Begitu juga dengan yang saya alami saat proses menulis buku Dari High Heels ke Sendal Jepit.

Awal Menulis

Quote dalam buku Dari High Heels ke Sendal Jepit

November 2017 jadi awal saya mantap untuk mulai belajar menulis. Coba-coba menulis artikel pendek, kemudian meningkat ke antologi setelah itu barulah mulai mencoba menulis buku solo pertama di tahun 2018. Genre tulisan saya ke arah nonfiksi. Meski nggak menutup juga untuk belajar menulis cerpen dan puisi.

Nonfiksi biasa saya pakai untuk menyampaikan opini, gagasan, dan informasi. Ranah fiksi lebih luwes dipakai untuk menyampaikan sesuatu ke dalam bentuk cerita.

Bagi saya tak perlu membatasi diri, selama masih bisa dan mau belajar, kenapa tidak?

Untuk naskah buku Dari High Heels ke Sendal Jepit (DHHKSJ) ini saya perlu waktu menulis sekitar 60 hari. Belum termasuk proses edit dan cetak yang memakan waktu sekitar 6 pekan.

Baca juga Ulasan Film Mencuri Raden Saleh

5 Kesulitan Selama Merampungkan Naskah Buku

Mengatur Waktu dan Ritme Menulis

Quote dalam buku Dari High Heels ke Sendal Jepit

Saat proses menulis berlangsung dari bulan Mei hingga pertengahan Juli tahun 2019, anak kedua saya sedang hobi jalan di usianya yang hampir memasuki tiga tahun.

Tentu saya harus ada untuk menemaninya berputar-putar di kompleks perumahan demi memuaskan keinginannya untuk bermain.

Hal itu membuat saya harus mensiasati waktu menulis dari siang ke malam atau dini hari (menunggu saat anak-anak tidur). Tak jarang saya pun ikut tertidur karena kelelahan.

Baca Juga  Ketahui 5 Love Languages dan Cara Mengenalinya

Tapi, Komitmen tetaplah komitmen, sekali memutuskan untuk menyelesaikan maka usahakan sekuat tenaga untuk tidak delay terlalu lama. Selain mengundang rasa malas, kebiasaan menunda akan membuat tulisan tak selesai dan menggantung.

Akhirnya, keinginan punya buku solo bisa jadi tinggal kenangan saja, hiks.

Menjaga Kestabilan Emosi

Quote dalam buku Dari High Heels ke Sendal Jepit

Emosi yang tidak terkendali sering disebabkan karena kelelahan fisik dan pikiran. Itu pula yang mendorong naik turunnya mood secara fluktuatif.

Kalau begitu kondisinya, bagaimana tulisan dapat selesai tepat waktu?

Istirahat yang cukup, ambil kesempatan untuk tidur-tidur ayam saat si kecil tidur di siang hari. Ingat ya bun, waktu luang seperti itu dipakai untuk istirahat bukannya main hape, hehehe.

Jadi ya mau tak mau harus pintar-pintar bagi waktu istirahat supaya rencana nulis buku juga bisa jalan meski nggak bisa terlalu cepat.

Memutar Kembali Memori Masa Lalu

Dari High Heels ke Sendal Jepit

Fase ini termasuk yang paling menantang dan rasanya ingin sekip saja.

Menceritakan tentang masa lalu, berarti membuka kembali kisah yang sudah berlalu atau mungkin sudah dipilih untuk dibenamkan dalam-dalam dan tak mau diingat lagi.

Jadi, terasa sulit saat memetakan kejadian di tahun-tahun itu. Bermodal ingatan, dan foto-foto masa kecil di tahun 1995 akhirnya bagian ini bisa dirampungkan meski sama sekali tidak mudah.

Perlu ketelatenan, kesabaran, dan kesadaran penuh untuk mengingat dan kemudian menuliskannya.

Wawancara Narasumber

Bab 8 Buku Dari High Heels ke Sendal Jepit

Buku ini juga dilengkapi oleh delapan kisah perempuan dengan kondisi menghadapi pilihan yang sama. Memilih menjadi ibu dan meninggalkan karir mereka lalu mengganti dengan pekerjaan lain yang bisa dikerjakan sembari mengurus anak di rumah.

Menggali informasi pribadi dari delapan perempuan memiliki tingkat kesulitan tersendiri mengingat perbedaan karakter dan keterbatasan waktu temu.

Sesi wawancara lebih banyak terjadi melalui pesan whatsapp sehingga penulis perlu melakukan pengecekan ulang agar tidak ada inti cerita yang keliru.

Ada tipe yang suka bercerita, ada pula sebaliknya ngirit kata. Jadi mesti cari banyak cara untuk bisa menggali cerita-cerita mereka.

Baca juga Ulasan Buku LALITA: Cerita Perempuan Hebat Indonesia

Baca Juga  Setop Jadi People Pleaser

Dealing dengan Editor

Dian Hadiani, Ibu Putu Suastini Koster, Saya

Setiap penulis tentu punya idealismenya sendiri. Ada bagian dari tulisan yang kita rasa begitu penting, tidak bisa dilepaskan dari satu kesatuan cerita.

Di sisi lain, seorang editor adalah seorang pembaca yang tak mau tahu bagaimana idelisme penulis. Mereka hanya menginginkan mendapat sebuah bacaan yang utuh dan berkesan.

Fase yang begitu sulit saya lalui, karena menghilangkan bagian-bagian yang dirasa tak perlu seperti menguliti diri (sedikit didramatisir), hiks ^^.

Masa itu mengingatkan saya dengan sebuah judul film berjudul Genius. Sebuah film yang menggambarkan hubungan seorang penulis dengan editornya.

Awal hubungan mereka tampak buruk, banyak moment menegangkan, saling ngotot tak mau dibantah, masing-masing merasa diksinya yang paling tepat.

Akhirnya Tom, si penulis yang diperankan oleh Jude Law dan sang editor Max Perkins oleh Colin Firth bermuara dalam satu kata perdamaian. Tom mulai memahami maksud dan tujuan Max bukan untuk menghancurkan tulisannya namun meramu kembali menjadi satu kesatuan yang apik. Jadilah mereka sepasang sahabat di sisa hidup mereka.

Tim Komunikasi Digital Gubernur Bali

Seperti itulah hubungan saya dengan ibu Dian Hadiani selaku mentor dan editor. Idealisme yang ingin dimenangkan akhirnya mengalah dan membaur jadi kesatuan yang membuat tulisan lebih baik, utuh dan ramah baca.

Fase sulit itu mengajarkan saya bahwa benar tak ada sesuatu yang instan. Setiap hal sekecil apapun tetap harus melewati proses. Semua itu akan membuat kita menghargai hasil yang di dapat sekecil apapun itu.

Proses mengajari kita tentang pentingnya komitmen dan konsistensi. Setiap dari kita tentu menikmati hasil yang baik, tapi apakah siap saat harus bejibaku dan berproses?

Peluncuran Buku Dari High Heels ke Sendal Jepit

Bersama Ibu Putu Suastini Koster di Acara Peluncuran Buku DHHKSJ

Sabtu, 1 Februari 2020 kemudian menjadi hari penting keempat setelah momen pernikahan, melahirkan dan wisuda.

Hari peluncuran buku solo kedua yang juga dihadiri oleh Istri Gubernur Bali, Ibu Putu Putri Suastini Koster.

“Tolong cubit tangan saya,” kata saya ke adik yang duduk bersisihan di depan jajaran kursi para tamu.

“Saya nggak lagi mimpi kan, Dik?” tanya saya lagi.

Bagaimana tidak, hari itu saya akan bertemu langsung dengan Istri Gubernur di acara peluncuran buku saya.

Baca Juga  Berdamai Dengan Emosi Saat Puasa Ala Mas Adjie Santosoputro

Ah! Apalah saya yang hanya remah rengginang. Bukan maksud merendahkan diri sendiri, tapi hanya teringat apa yang sudah diri ini lakukan sampai seorang istri kepala daerah bersedia hadir. Haru dan bersyukur campur aduk dalam hati.

Bagi yang sudah mengenal sosok beliau pasti tahu kalau beliau adalah seorang pegiat literasi yang ulet. Banyak kegiatan untuk memajukan literasi yang sudah beliau lakukan di Bali. Ibu Koster amat menyukai puisi, karena dibesarkan di lingkungan yang menggeluti seni teater.

Bersama Ibu Dina, Ketua FLP Bali 2019-2021

Dukungan beliau terhadap pegiat literasi di Bali patut diacungi jempol. Kehadiran beliau dan beberapa sahabat literasi lainnya seperti Ibu Dina selaku ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Bali, teman-teman dari berbagai komunitas juga Lit Writing Club dan rekan-rekan media, semakin mematik semangat saya untuk terus menulis sampai kapan pun dengan media apa pun.

Jalan Masih Panjang

Museum Becak Tempat Peluncuran Buku

Euforia peluncuran buku habis sudah, tapi kesannya masih melekat sampai hari ini. Ternyata jalan masih panjang. Setelah menerbitkan buku, seorang tetap harus menulis. Katanya mau disebut menulis, jadi harus terus menulis meski dalam bentuk apa pun.

Bicara tentang penulis, saya sempat menemui realita yang menggelitik. Bagi mereka yang belum tahu secara utuh mengira kalau udah menebitkan buku maka bisa hidup dari penghasilan jual buku.

Itu nyata terjadi di sekitar saya, bahkan orang tersebut sampai japri ke nomor saya. Ampuuun Gusti….

Ingin ketawa tapi saya tahan dan coba memahami kalau orang yang berpikir seperti itu mengira semua semudah itu. Penulis terkenal saja mesti berupaya promosi supaya bukunya laku dan mendapat royalti, apalagi saya yang baru nulis kemarin sore, hehe.

Di situ bisa dipahami kalau hasil baik bisa kita tuai setelah daya upaya dilakukan secara maksimal. Kalau baru nulis trus berharap pendapatan besar ya siap-siap gelar selimut, tidur, bermimpilah ^~^

“Seorang penulis harus menemukan satu alasan kuat yang dapat mematik semangat menulisnya. Jika tidak, pena itu akan berhenti dan tintanya akan mengering tergerus waktu.”
– Mina Megawati –

One thought on “Perjalanan Menulis Buku “Dari High Heels ke Sendal Jepit”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Ulasan Buku LALITA – Cerita Perempuan Hebat Indonesia
Previous Post Ulasan Buku LALITA – Cerita Perempuan Hebat Indonesia
Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian, “The Art of Solitude”
Next Post Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian, “The Art of Solitude”