Jurnal Mega

Blog Tentang Keseharian seorang jurnalis

7 Persamaan Yoga dan Menulis

7 Persamaan Yoga dan Menulis

Jurnalmega.com, Menekuni yoga dan menulis lamat-lamat membuat saya berpikir kalau keduanya punya banyak kesamaan. Meski tak dipungkiri saya pun pernah berada dalam dilemma soal waktu untuk melakukan keduanya yang kadang saling berbenturan.

Di saat ingin menulis atau liputan keluar rumah menuju lokasi acara, di saat yang sama saya juga ingin latihan yoga bersama guru di shala (tempat yoga).

 

Aktivitas Yoga

Setelah beberapa waktu bergumul dengan kebingungan, saya mencoba untuk berdamai dengan keadaan untuk kemudian menimbang-nimbang mana yang lebih prioritas. Beberapa bulan kemudian saya menyadari kalau keduanya ternyata justru saling mendukung karena punya banyak kesamaan. Jadi, keputusan untuk menjalani keduanya kenapa tidak.

Daftar Isi tulisan :

  1. Tentang 7 Persamaan Yoga dan Menulis

    • Mengajak Melihat ke Dalam Diri (ajang refleksi diri)
    • Melatih Konsistensi dan Disiplin Diri
    • Cari Guru Atau Komunitas Jika Dibutuhkan
    • Kelak Bisa Menghasilkan Cuan Jika Ditekuni
    • Dalam Proses Belajarnya Diperlukan Alokasi Dana
    • Cari Pembanding Sekadar Mencari Penyemangat
    • Membuatmu Bertemu Dengan Orang-orang Baru
    (Pemantik Suluh Semangat Diri)

  2. Insight Yoga dan Menulis

7 Persamaan Yoga dan Menulis

Sirsasana (Headstand Pose)

 

  • Mengajak Melihat ke Dalam Diri (ajang refleksi diri)

Saat menulis dan beryoga, saya seperti diajak mengamati diri sendiri. Mana bagian kelemahan dan keunggulan saya terlihat saat melakukannya. Saat menulis saya perhatikan bagian yang selalu membuat saya perlu waktu lebih untuk menggarapnya, mana bagian yang jauh lebih mudah.

Begitu pun dengan yoga, ada gerakan atau pose yang lebih mudah dicapai, dan begitu sulit dan nyaris mustahil saya lakukan di pose lainnya.

Hal ini kemudian saya cermati jikalau menulis dan yoga sama-sama mengajari diri untuk menyadari kekuatan dan kelemahan diri lalu melatihnya secara bertahap. Keduanya mengajak nurasi saya untuk sadar, refleksi, dan tentunya harus tetap berlatih.

  • Melatih Konsistensi dan Disiplin Diri

Konsistensi dan disiplin diri jadi kata-kata yang mungkin terdengar klise, tapi benar adanya.
Yoga dan menulis saya rasakan sama-sama mendidik dan melatih konsistensi dan disiplin. Jika tidak, maka proses yang dijalani akan jadi sia-sia.

Misalnya karena suatu hal kita mogok menulis, maka sekalinya ingin mulai kita harus mulai lagi dari nol atau dari awal lagi. Terasa sulit dalam menyusun kalimat, miskin diksi, rentan pengulangan, dan bisa saja kita tertinggal informasi tentang perkembangan KBBI dan EYD. Pun dengan yoga, jika lama tak latihan, otot kembali kaku dan tubuh jadi agak sulit berkompromi. Makanya rajin latihan ya… #selfreminder

Baca juga:

Resensi Buku The Art of Solitude
Tips Beryoga Saat Puasa

 

  • Cari Guru Atau Komunitas Jika Dibutuhkan

Kalau kita tipe yang susah untuk belajar sendiri maka mencari guru atau komunitas jadi solusinya. Kita yang paling mengetahui kebutuhan diri kita sendiri. Jika, semangat kita lebih terpacu saat berada bersama guru dan komunitas maka bergeraklah untuk mencari yang sesuai dengan diri kita.

Tapi, kita tetap perlu berhati-hati saat memilih lingkaran pertemanan. Jangan sampai sirkel yang kita pilih membuat kita jauh dari tujuan dan keinginan di awal.

Youtube Satu Persen pernah membahas tentang, “Alasan Kenapa Lo Jangan Asal Masuk Circle – Episode 11.”   Di sana disebutkan tentang dua tipe circle. Tipe sociopath dan creator.

Sociopath itu sebetulnya istilah buat orang yang tidak berempati, “Saya menangkapnya seperti tipe orang yang gak peduli dengan perasaan dan kebutuhan orang lain, selama kebutuhan dan keinginannya sendiri tercapai.”
Jadi, masuk circle karena ada maunya. Mereka berusaha dan menghalalkan cara apapun agar maksudnya tercapai, termasuk jegal sana-sini. Begitu maksudnya terpenuhi dan mereka selesai memanfaatkan, mereka pergi dan cari lingkaran pertemanan lainnya.

Gabung di circle seperti itu akan membuat kita terus menerus was-was, ada rasa takut dimanfaatkan, merasa harus memanfaatkan orang lain karena kita juga dimanfaatkan, tidak tulus dalam memberi, merasa orang lain selalu punya maksud lain kalau mendekati kita, dsb.

Creator, mereka dengan tipe circle Creator selalu memikirkan seberapa jauh mereka bisa berkembang, berkontribusi dan berkreasi. Tidak ada kata saling menjatuhkan karena mereka di lingkup ini justru bahu-membahu berbagi untuk menghasilkan sesuatu.

Nah, karena inilah maka kita harus pilah pilih jadi solusi dan antisipatif. Alih-alih tambah rajin, kita justru terjerumus akibat salah circle.

Yoga dan Menulis

 

  • Kelak Bisa Menghasilkan Cuan Jika Ditekuni

Tak ada ruginya punya softskill (keahlian). Suatu saat akan terpakai, menulis dan yoga contohnya.
Kalau bisa menulis dengan baik, kita bisa mengolah blog dan membesarkan blog pribadi, kerja jadi kontributor di media, jadi editor, sampai memenuhi permintaan kebutuhan ghost writer.

Sedangkan keahlian yoga kita bisa jual jasa dengan jadi instruktur. Apalagi saat ini Bali sudah kembali normal. Hotel dan hospitality mencari instruktur untuk menyediakan wellbeing activity di hunian mereka.

Tapi, perlu diingat untuk sampai ke fase itu perlu usaha dan waktu. Nggak ujug-ujug langsung ada yang bayar keahlian kita. Seperti kata Josh Kaufmann, kita hanya perlu 20 jam untuk mempelajari sesuatu yang baru.

Baca juga:
Perjalanan Menulis Buku Dari High Heels ke Sendal Jepit

  • Dalam Proses Belajarnya Diperlukan Alokasi Dana

Ingin punya keahlian menulis, paling tidak harus berani investasi membeli atau membayar pelatihan. Belajar dengan mereka yang sudah mumpuni akan membantu kita naik level.

Tapi, tentu kita harus konsisten dalam menerapkan ilmu yang didapat dari guru tersebut.

Begitu pun dengan yoga. Seiring meningkatnya keahlian, kita bisa investasi untuk mencari sertifikat mengajar. Ini sangat potensial ke depannya. Apalagi kalau kita mau meluaskan pergaulan tentu akan membawa hasil.

  • Cari Pembanding Sekadar Mencari Penyemangat

Melihat keluar salah satunya bisa dengan melihat mentor atau guru. Punya mentor ibarat punya figur penyemangat.

Jadi, jika diperlukan kita bisa dan sangat diperbolehkan menghadirkan figure tertentu sekadar beri suntikan semangat terutama saat down dan hilang motivasi diri.

Tapi, tetap sadari kalau motivasi terkuat adalah yang datang dari dalam lubuk hati kita sendiri.

  • Membuatmu Bertemu Dengan Orang-orang Baru

Yoga mempertemukan saya dengan dunia holistik seperti para pengajar yoga, guru meditasi, pakar plant based food, pun narasumber di dunia kesehatan lainnya seperti dokter dan psikolog.

Apalagi setelah masuk dan menjadi kontributor Liputan6.com, saya bertemu dengan narasumber dari berbagai latar belakang mulai dari dunia kesehatan (karena saya mengawali dari contributor kanal health), kemudian bertemu penyiar senior, Mba Desi Anwar, berkesempatan berbicara langsung dengan wartawan dan penulis senior, Bu Oka Rusmini. Juga beberapa teman penulis hebat seperti Muna Masyari, Darmawati Majid, Valiant Budi Yogi, Ayu Utami, dan masih banyak lagi.

Para narasumber itulah kemudian mendatangkan ragam insight dan memantik suluh semangat diri.

Urdva Dhanurasana (Kayang)

Insight dari Persamaan Yoga & Menulis

Mengetahui persamaan Yoga dan Menulis membuat saya yakin bahwa keduanya hadir untuk saling melengkapi dan membantu saya mengingatkan tentang banyak hal-hal yang mungkin luput untuk disyukuri.
Dan nggak harus memilih salah satu, karena keduanya bisa dilakukan beriringan. Soal pintar mengatur waktu aja, ya nggak.

Namaste…

Baca Juga  Perjalanan Menulis Buku "Dari High Heels ke Sendal Jepit"

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian, “The Art of Solitude”
Previous Post Apa yang Kita Pikirkan Ketika Kita Sendirian, “The Art of Solitude”
Nikmatnya Ikan Goreng Dengan Kuah Segar di IGOR Renon
Next Post Nikmatnya Ikan Goreng Dengan Kuah Segar di IGOR Renon